Yamaha

Idrus Marham: Dedi Mulyadi Paling Aktif Berkomunikasi dengan Rakyat

  Kamis, 08 Juni 2017   Andres Fatubun
Dedi Mulyadi. (Humas Setda Pwk)

BANDUNG, AYOPURWAKARTA.COM -- Satu tahun mendatang hawa politik di Jabar dipastikan memanas seiring dengan gelaran Pilgub 2018 yang dibanjiri oleh para kandidat calon dengan tingkat popularitas tinggi. Sebut saja Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar hingga Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Bagi Golkar, saat ini, Dedi adalah ujung tombak di Pilgub Jabar. Ia digadang-gadang menjadi jawaban atas puasa kepemimpinan Golkar selama hampir satu dekade terakhir.

"Sekarang Partai Golkar betul-betul berkomitmen dan berupaya sedemikian rupa dalam Pilkada Jabar 2018 mendatang setelah dalam beberapa periode tidak pernah menang," ujar Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham.

Dapat dikatakan bahwa kini Dedi Mulyadi yang juga merupakan Ketua DPD Partai Golkar Jabar adalah calon gubernur yang paling aktif dalam berkomunikasi dan memperkenalkan diri pada masyarakat.

Setidaknya 10 titik daerah didatangi setiap harinya oleh Dedi. Bukan semata hanya di kawasan Purwakarta namun ke berbagai wilayah di Jawa Barat salah satunya Kota Bandung. Bahkan Dedi sempat hadir di salah satu sinetron yang ditayangkan stasiun televisi swasta nasional.

"Dedi sudah berpengalaman dan memimpin Purwakarta selama dua periode. Saat ini saudara Dedi adalah yang paling aktif berkomunikasi dengan rakyat," ujar Idrus Marham.

Upaya tersebut nampak berbuahkan hasil sebab menurut survei yang dilakukan Indo Barometer pada bulan Mei 2017 menempatkan Dedi Mulyadi pada peringkat ketiga dibawah Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar.

Meski peringkat dalam survei tersebut tidak mengalami perubahan dari dua bulan sebelumnya namun raihan angka yang didapat Dedi Mulyadi meningkat sangat signifikan dibandingkan Emil dan Demiz.

"Dedi Mulyadi nampak tancap gas gigi lima. Meski Ridwan Kamil juga naik 23%," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer Qodari.

Namun ketika melihat fenomena yang terjadi pada dua Pilgub Jabar terakhir bahwa hasil survei selalu berbanding terbalik dengan pemenang di akhir pemilu.

Pada pemilu tahun 2008 nama kandidat calon Agum Gumelar dari PDIP selalu menguasai hasil poling di berbagai lembaga survei namun justru Aher yang akhirnya keluar sebagai pemenang.

Tidak berbeda lima tahun berselang yakni pada pemilu 2008 ketika Dede Yusuf bersama Partai Demokrat menghiasi poling tertinggi lembaga survei namun kembali Aher dan PKS yang keluar sebagai pemenang di Jabar.

"Justru yang rajin (kampanye) di awal-awal malah mati di akhir-akhir," ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa Maman Imanulhaq.

Terlebih Partai Golkar sendiri belum dapat memastikan akan mendukung Dedi Mulyadi dalam pilgub Jabar mendatang. Meski Idrus Marham menegaskan bahwa Dedi Mulyadi sangat memiliki peluang besar untuk dicalonkan Golkar dimana sesuai dengan prinsip partai yang lebih mengedepankan kader.

"Dari Golkar ada nama lain seperti Nurul Arifin. Nanti kita akan liat perkembangannya tapi yang jelas siapapun calon dari Partai Golkar harus dipastikan untuk dapat memenangkan pilkada," ujar Idrus Marham. (Afrian Jamul)

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar