Yamaha NMax

Alasan Para Peserta Ikuti Mojang Jajaka Purwakarta 2017

  Minggu, 15 Oktober 2017   Arditya Pramono

PURWAKARTA,AYOPURWAKARTA.COM -- Ajang pencarian talenta berbakat generasi muda unggulan bertajuk "Pasanggiri Mojang Jejaka Kabupaten Purwakarta 2017" sedang dilaksanakan. 

Menurut keterangan panitia penyelenggara, terdapat 180 orang yang telah mengikuti tahapan ajang pencarian anak muda unggulan tersebut. 

Ayopurwakarta.com sempat mewawancari sejumlah peserta. Di antaranya Kiki Zakaria (23) warga Cianting, Kecamatan Sukatani, Kab. Purwakarta. Berdasarkan keterangan pria yang kini bekerja di salah satu dinas Pemkab Purwakarta itu, alasan utama dirinya ikut adalah untuk lebih memperkenalkan Purwakarta. 

"Purwakarta memang kabupaten terkecil kedua se-Jabar tapi bukan berarti Purwakarta tidak bisa maju khususnya dibidang pariwisata, seni dan budaya," katanya kepada Ayopurwakarta.com pada Sabtu (14/10/2017).

Bagi Kiki, sebagai anak muda asli Purwakarta sudah sewajarnya mau dan bangga memperkenalkan Purwakarta ke penjuru Indonesia bahkan dunia. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Anisa Yuliawati (21). Wanita muda yang keseharianya masih berkuliah di UNPAD jurusan Ilmu Pemerintahan ini mengaku motivasi utama ikut Mojang Jajaka Purwakarta 2017 untuk memperkenalkan sekaligus memperomosikan Purwakarta baik secara nasional maupun internasional. 

"Tentu sebagai anak muda sudah seharusnya berperan aktif dalam  memperkenalkan sekaligus mempromosikan daerahnya sendiri," ujarnya. 

Anisa menambahkan dengan kemajuan era digital saat ini, sebenarnya cara paling mudah memperkenalkan dan mempromosikan wisata, seni dan budaya adalah dengan mempostingnya via medsos.  

"Sekarang kan sudah zaman digital, semua serba digital. Udah gampang kalau mau promosi, tinggal upload aja ke Instagram atau Facebook kita," tuturnya. 

Hal yang sedikit berbeda diutarakan oleh Rini Setiani (19) mahasiswi UPI Bandung jurusan pendidikan seni tari. Menurut Rini, ia sengaja ikut Mojang Jajaka Purwakarta 2017 untuk mengubah paradigma masyarakat yang cenderung lebih menyukai dan hanya mengenal tarian Sunda modern atau kontemporer. 

"Saya ingin mengubah paradigma orang yang cenderung lebih menyukai sekaligus mengenal tarian Sunda modern dan kontemporer sementara tarian Sunda klasik seperti Tari Kandagan dan Badaya justru seakan tak ada yang mengenalinya," ungkapnya. 

Di sisi lain, ketiganya mengaku memiliki misi pribadi dalam mengikuti ajang yang membanggakan tersebut. 

"Kami ingin membuat orang tua kami bangga dalam ikut ajang ini," kata mereka bertiga sambil tersenyum.

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar