Yamaha NMax

Selamat dan Terima Kasih Wahai Guru

  Minggu, 25 November 2018   
Hari Guru

Selamat hari Guru untuk para guru, pengajar, dan orang-orang yang pernah mengajarkan ilmu atau yang menjadikan kita mengetahui dari yang asalnya tidak tahu menjadi tahu. Ilmu yang kalian berikan tidak luntur dan masih bersemayam dalam memori. Sejak sekolah dasar sampai pendidikan doktor, banyak guru (dosen) yang berperan membimbing saya.

Berbagai ilmu yang didapatkan itu semata-mata untuk menjadi petunjuk, pedoman, dan mengarahkan diri kita agar bergerak menyusuri jalan kehidupan. Seperti lentera yang bercahaya di tengah malam, yang dibawa saat kita berjalan. Seperti bulan di malam hari menerangi bumi, sehingga saat berjalan tidak gelap dan dapat menikmati suasana malam. Ini sebuah anugerah dari Allah Ta’ala yang mesti kita syukuri. 

Hari ini dalam kalender tercantum sebagai hari guru. Saya coba merenung tentang sosok guru. Di negeri ini ada beberapa peristiwa yang tidak mengenakan. Kasus pemukulan pada guru, bahkan ada yang sampai wafat, dipenjarakan oleh orangtua siswa, karier guru yang terhambat karena usia yang dibatasi, dan lainnya. Saya memahaminya sebuah dinamika. Tentu ini bagian dari proses kehidupan sehingga menjadi pelajaran yang berharga untuk diambil hikmahnya.

Tentang guru, saya membaca hadis-hadis Nabi Muhammad saw yang menyebutkan betapa pentingnya posisi guru di tengah umat Islam. Misalnya riwayat dari Abdullah bin Amru, ia menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Saw masuk ke masjid. Di dalam masjid ada dua kelompok sahabat sedang berkumpul-kumpul. Kelompok pertama sedang membaca Al-Quran dan berdoa. Sedangkan kelompok kedua melakukan kegiatan belajar mengajar.

Melihat pemandangan indah itu Nabi bersabda: Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Quran dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang mininta) mereka. Sedangkan kelompok yang kedua belajar mengajar dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru. Kemudian Rasulullah Saw duduk dan bergabung bersama kelompok yang kedua (HR. Ibnu Majah No 225). 

Hadis lainnya, Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras, tetapi mengutusku sebagai pendidik (guru) dan mempermudah” (HR. Muslim No 2703). Rasulullah saw juga bersabda: “Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru dan ini lebih utama” (HR Ath-Thayalisi).

Dari hadis tersebut bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad saw mengutamakan aktivitas belajar (ilmu), menyebut dirinya sebagai guru (pengajar), dan profesi guru lebih utama. Mengapa lebih utama? Sebab aktivitasnya terkait dengan ilmu dan kehidupan ini akan lebih baik jika dibarengi dengan ilmu sehingga menjadi terarah dan mengetahui yang harus dilakukan dan tidaknya; mengetahui yang benar dan tidaknya, sehingga manusia bergerak pada jalan yang benar dan sampai pada tujuan. Inilah fungsi ilmu. Dan guru sangat berperan dalam urusan ilmu.

Guru yang menjadi perantaranya. Ilmuwan, pejabat, pengusaha, bahkan guru, pun tidak lepas dari seorang pembimbing yang mengajarkan kepadanya ilmu hingga ia menjadi sosoknya yang ternama. Tanpa guru tampaknya tidak ada keberhasilan dan kesuksesan. Tanpa guru tampaknya jalan hidup tidak akan terarah dengan lebih baik. 

 

Kita mengetahui dalam sejarah Islam bahwa Nabi Muhammad saw memainkan peran sebagai guru. Beliau menyampaikan wahyu berupa Al-Quran yang berisi pengetahuan (ilmu dan petunjuk) kepada umatnya. Beliau membimbing umatnya dalam hidup dan ibadah. Beliau menjelaskan kepada orang-orang yang belum memahami agama Islam dengan cara yang lebih baik dan mudah diterima dengan tingkat pengetahuan yang diajak bicaranya.

Sehingga para sahabat dan keluarga Rasulullah saw menjadi umat yang tangguh dalam menjalani kehidupan, mengenal baca tulis, dan memerankan dirinya sebagai guru yang menyampaikan kembali ajaran Islam pada generasi setelahnya.

Dari setelah generasi sahabat lahir generasi tabiin kemudian tabiit tabiin dan masa para ulama yang banyak melahirkan karya-karya ilmiah ternama seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Hayyan, Al-Khuwarizmi, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Nashiruddin Thusi, Ibnu Thufail, Ikhwan al-Shafa, Ibnu Khaldun, Ibnu Sibawaih, dan lainnya.

Karya mereka ini yang sampai sekarang dipelajari di dunia sesuai dengan bidangnya masing-masing. Mereka ini secara tidak langsung adalah guru. Dan dari guru pula nama-nama mereka disampaikan kepada kita, termasuk diberitahu karya-karya yang bisa dibaca dan dikaji kembali agar kita menjadi cerdas dan memahami arah kehidupan berdasarkan ilmu.

Kalau kita hitung peran dan jasa dari para guru kepada kita, tentu tidak bisa dihitung dan tidak dapat terbayarkan. Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai balas jasa dari mereka? Dalam agama Islam, yang saya pahami diajarkan untuk sikap hormat dan memuliakan orang-orang yang mengajarkan pengetahuan kepada kita dan disertai dengan doa yang tulus agar mereka hidupnya berkah dan senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.

Jika mempunyai harta yang lebih dari kebutuhan harian, alangkah baiknya diperuntukkan sebagai hadiah sederhana kepada guru yang masih ada di antara kita. Tentu selain materi adalah doa. Panjatkan doa untuk para guru yang mendidik dan mengajari baca tulis sejak kecil sampai para guru di tingkat pendidikan akhir, dan guru yang kita menerima ilmu darinya meski tidak melalui jalur sekolah.  

Selamat hari Guru. Terima kasih Bapak Ibu Guru, Dosen, dan profesi pendidik lainnya yang telah mengajariku ilmu dan hikmah. Terima kasih atas pengabdiannya. Terima kasih telah menjadi lentera hidup. Terima kasih telah menjadikan kami mengetahui yang benar. Semoga Allah Ta’ala menerima pengabdian para Guru dengan sebaik-baiknya penerimaan-Nya.

Dr. H. JOKO TRIO SUROSO, Drs, SH, MH, MM, MBA
Caleg DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta (nomor urut 2 partai PDI Perjuangan)

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar