Yamaha NMax

Purwakarta Genjot Perluasan Sawah Organik

  Rabu, 02 Januari 2019   Arditya Pramono
Petani membajak tanah di sawah. (Arditya Pramono/Ayopurwakarta.com)

PURWAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM--Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta mendorong perluasan areal persawahan organik di Purwakarta dengan target 1.000 hektar lahan.

Menurut Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan, perluasan areal sawah organik bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi, seiring dengan waktu dapat mengembalikan kesuburan tanah dan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi petani. 

"Dengan menanam padi organik harga jual beras yang dihasilkan akan lebih tinggi ketimbang beras biasa. Jadi disatu sisi pasti menguntungkan petani itu sendiri," katanya, Rabu (2/1/2019).

Namun Agus sendiri menuturkan, adanya tantangan teknis dalam menanam padi organik di areal sawah organik. Terutama harus adanya pasokan air yang memadai dan juga bersih dari berbagai macam limbah.

AYO BACA : Purwakarta Dorong Perluasan 1.000 Hektare Pertanian Organik

"Dari 17 kecamatan di Purwakarta memang yang potensial dari segi sumber air yang memadai dan bersih dari limbah yatu di Kecamatan Kiarapedes, Wanayasa, Bojong, Darangdan, Pondok Salam dan Pasawahan. Alasannya, sumber air di wilayah itu masih alami. Yaitu, keluar dari sumber mata air pegunungan," jelasnya.

Selain itu, tantangan berikutnya menurut Agus adalah masalah penggunan pupuk organik yang juga harus dilakukan selama proses penanaman padi.

Nah, untuk hal tersebut, Agus mengaku pihaknya telah membantu sejumlah kelompok tani (poktan) dalam membuat pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan secara mandiri.

"Poktan di sejumlah desa di Kecamatan Bojong, Wanayasa dan Pondoksalam sudah ada yang kami bantu agar dapat mengolah pupuk organik secara mandiri. Contohnya seperti memberikan mesin pengolahan pupuk dari kotoran hewan," ucapnya.

AYO BACA : Jasindo Targetkan 1 Juta Hektare Lahan Sawah Masuk AUTP

Kemudian, tantangan ketiga yang menurut Agus paling berat adalah mengubah mindset petani untuk beralih menjadi petani padi organik.

Agus beralasan hal tersebut terjadi karena mereka takut hasil produksi padi berkurang dan penggunaan pupuk organik dikhawatirkan sulit untuk membantu proses penanaman padi.

"Memang ketika pertama kali membuka lahan pertanian organik produktifitas akan terhambat. Namun itu hanya sementara. Kalau soal pupuk sendiri, selama pupuk organik itu bagus tentunya petani gak usah khawatir," ucapnya.

Sementara itu, dari target 1.000 areal sawah organik, hingga saat ini Purwakarta baru memiliki 300 hektar. Untuk tahun 2019, menurut Agus akan ada tambahan sekitar 100 hektar areal sawah organik.

"Ya InsyaAllah penambahan areal sawah organik lancar dilaksanakan," katanya.

AYO BACA : Ayo Sejahterakan Petani!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar