Yamaha Aerox

World Journalist Conference: Kedamaian di Semenanjung Korea

  Senin, 08 April 2019   Adi Ginanjar
Delegasi dari 54 negara di World Journalist Conference, Seoul, Korsel, 24-29 Maret 2019. (Dok panitia)

Puluhan jurnalis 44 negara kumpul di Seoul, ibu kota Korea Selatan, akhir Maret 2019. Mereka berbincang ihwal pandangan wartawan terhadap perdamaian dunia, khususnya kedamaian di semenanjung Korea. Bicara masalah-masalah internasional lewat kacamata jurnalis. Termasuk perseteruan Korea Selatan dan Korea Utara, yang tak juga berujung pada menyatunya satu bangsa serumpun.

Tentu sejumlah pendapat mengemuka, demi stabilisasi di semenanjung. Beragam sudut pandang terungkap sepanjang konferensi, yang berlangsung dua hari, di Seoul, di gedung tempat Journalist Association of Korea (JAK) berkantor. Semua mencoba memecah kebuntuan. Namun satu hal sama, yang terungkap dalam pertemuan, mereka yang hadir memang berharap dua negara bersaudara itu, pada akhirnya akan menyatu.

Sebagian besar negara Asia, diwakili Indonesia, Filipina, dan Iran, menginginkan sebuah perdamaian yang abadi, tanpa intrik politik, atau keinginan lain yang menunggangi. Untuk itu, pembicaraan perdamaian harus dilakukan oleh dua Korea, selatan dan utara, tanpa campur tangan orang luar. Artinya, Amerika Serikat dibalik Korsel dan Cina di belakang Korut, harus hengkang. Tapi ini perlu diawali dengan reconfirm, konfirmasi ulang perihal tingkat kepercayaan masing-masing, serta tingkat keyakinan di antara keduanya. Keyakinan bahwa keduanya memang punya kemauan besar untuk bersatu.

Jika dua Korea saling bicara, dapat dipastikan, mereka bicara lebih dengan hati. Ada perasaan lain, yang sulit digambarkan, yang akan mendorong pembicaraan menjadi lebih cair. Tak sekadar hitung-hitungan keamanan semata, atau bisnis, atau keuntungan lainnya, yang mendasari catatan perundingan. Jika banyak catatan menyertai perundingan, pastinya kesetaraan atau perimbangan menjadi pertimbangan utama. Namun bila didasari nilai-nilai yang lebih bersifat manusiawi, dengan sendirinya muncul hasrat yang hakiki untuk sebuah penyatuan.

AYO BACA : Tips Make Up Natural ala Gadis Korea

Beda, bila bicara didasari rasa keinginan bersatu, karena apa pun alasannya, mereka adalah saudara. Banyak penduduk selatan yang punya saudara di utara. Juga sebaliknya. Nilai kemanusiaan seperti ini, akan mendorong pembicaraan tidak sekadar menghitung-hitung kekuatan militer atau lainnya. Tapi lebih menjurus pada kesepakatn berdasarkan nilai-nilai kehidupan, kultural, yang sama di antara selatan dan utara.

Dari kacamata utara, berulangkali menyatakan bahwa mereka tetap memegang kepercayaan akan terjadinya perdamaian. Hanya mereka menyayangkan, selatan selalu berlindung dengan Amerika Serikat, untuk negosiasi dengan utara. Sementara selatan menilai, keinginan damai pihak utara adalah semacam propaganda semata, karena terbukti terus memupuk kekuatan militernya.

Di selatan, sebenarnya hembusan angin perdamaian cukup bertiup kencang. Contoh kecilnya. Saat berkunjung ke kantor koran nomor dua terbesar (omplagnya masih sekira satu juta), Jong Ang Ilbo, yang tergambar adalah keinginan bersatu antara selatan dengan utara. Dan penyatuan itu hendaknya melalui pembicaraan antarmereka sendiri, tanpa campurtangan orang luar. Bosan mereka dengan ragam tawaran pihak ketiga soal solusi damai. Terbukti hingga kini belum juga menyatukan mereka. Sebab, diakui atau tidak, ada kepentingan terselubung yang pada gilirannya memacetkan upaya damai.

Saat berbincang di redaksi Jong Ang Ilbo, semua redaktur yang hadir terkesan tutup mulut, jika ditanya perihal perdamaian di semenanjung Korea. Pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur politik, luar negeri, dan opini, selalu mengelak dan mencoba mengalihkan pembicaraan ke masalah lain. Bisa ditarik kesimpulan, bahwa bagi mereka, para wartawan, soal damai selatan dan utara adalah urusan mereka, bukan urusan orang lain. Itu pula gambaran sebagian besar penduduk dua Korea.

AYO BACA : Umuh Beri Kode Pemain Naturalisasi Bukan dari Korea

Ada hal yang lebih mengejutkan lagi. Di ruang pertemuan kantor koran itu, terpampang lukisan besar sungai dan bukit, yang bisa melihat dari kejauhan Pyongyang, ibu kota Korut. Ini lebih menjelaskan lagi, sebuah kerinduan akan bersatunya dua Korea. Rindu yang sangat manusiawi. Rindu yang bisa melanda siapa pun di belahan bumi ini, ketika persaudaraan dihancurkan, dipecah, oleh kepentingan politik, ideologi atau pun militer. Harusnya nilai-nilai kemanusiaan dijunjung lebih tinggi, dibanding kepentingan lainnya.

Biarlah dua Korea membicarakan permasalahan mereka sendiri. Jangan dicampuri, agar hasilnya memang murni keinginan penduduk Korea, di selatan dan utara. Biar mereka yang memastikan masa depan mereka, sebagai satu negara yang berdaulat, tanpa embel-embel ideologi, sosialis atau liberalisme, yang selalu menghantui. Janji janji ideologi sudah bukan waktunya lagi, seiring dengan perubahan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Sosialis murni tak ada lagi, begitu pula dengan paham liberal. Kadang pemerintahan masih bergaya sosialis, dengan satu partai penguasa, namun ekonomi dijalankan secara terbuka. Sebaliknya, pemerintahan liberal, di bidang ekonomi menerapkan persyaratan ketat perdagangan. Artinya, secara garis tegas pemisahan antara dua paham itu, sudah kian meluntur. Vietnam, Cina, juga Amerika Serikat bisa dijadikan contoh, memudarnya paham kaku ideologis.

Jalan memang tampaknya masih panjang. Isu nuklir di Utara masih menghantui. Namun tetap terbesit harapan untuk melaluinya dengan damai. Saat ini, keinginan bersatu itu tumbuh kembali, setelah cukup lama meredup. Inilah saatnya menjalin dialog intensif, tanpa provokasi. Dua Korea sudah menyatu dalam satu barisan, di Asian Games Jakarta, tahun lalu. Apakah ini pertanda bahwa perdamaian di semenanjung Korea kian dekat? Selama “asa”masih ada, cahaya damai selalu akan tetap menyala.

Unifikasi Korea memang bukan perkara mudah. Pelik karena ada nuklir menghantui disana. Unifikasi Jerman, yang sudah puluhan tahun, masih tetap menyisakan luka Berlin Barat dan Berlin Timur. Mungkin penyatuan Korea, lebih tepatnya nanti menyerupai Vitnam. Utara dan selatan berjalan seiring, tanpa ada yang merasa kalah dan menang. Satu pesan dari hasil pertemuan wartawan dunia, “Utara dan Selatan harus yakin penyelesaian ada di tangan mereka, tanpa campurtangan pihak ketiga”. Dan, harapan itu belum pudar!

Mirza Zulhadi/AyoBandung/Seoul

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar