Yamaha Aerox

Menengok Makam Keramat Cikal Bakal Peradaban Masyarakat Bojong

  Jumat, 30 Agustus 2019   Dede Nurhasanudin
Area permakaman di Kampung Tajur, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, yang diyakini merupakan keberadaan para sesepuh pencipta peradaban masyarakat Bojong, Purwakarta. (Dede Nurhasanudin/Ayopurwakarta.com)

BOJONG, AYOPURWAKARTA.COM -- Barangkali di setiap daerah, ada saja area permakaman yang dikeramatkan. Dikeramatkannya suatu permakaman, biasanya karena diyakini menyimpan cerita yang membekas bagi kehidupan masyarakat.

Di Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Kampung Tajur, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, terdapat juga permakaman yang dikeramatkan. Di area kuburan itu, pernah ditemukan makam Eyang Wali Pandita sekitar tahun 1870 atau sekitar awal masa penjajahan Belanda.

Setelah ditemukan makam Eyang Wali Pandita, ditemukan juga makam-makan lainnya, di antaranya makam Eyang Wali Panembahan, Eyang Wali Bongkot, Eyang Wali Aleisih, dan Eyang Mayang Santri.

AYO BACA : Ops Lodaya Purwakarta Jaring Ratusan Pengendara

Lalu siapa mereka? Masyarakat setempat meyakini bahwa mereka adalah leluhur masyarakat Kecamatan Bojong. Selain itu, mereka dinilai berjasa dalam menata kehidupan alias peradaban masyarakat Bojong.

"Menurut keterangan turun temurun dari leluhur saya ceritanya seperti itu, awalnya di sini cuma ada makam karomah Eyang Wali Pandita, kemudian temukan juga makam lain,” ujar Abah Dudung, juru kunci penjaga pemakaman tersebut, Jumat (30/8/2019).

Abah Dudung menjelaskan, meskipun anggapan masyarakat demikian terhadap para eyang, nyatanya tidak ada bukti otentik tentang asal muasalnya. Tentang waktu mereka meninggal, maupun dimakamkan di area permakaman yang dijagan Abah Dudung.

AYO BACA : Bandung Sudah Tak Cocok Jadi Ibu Kota Jawa Barat?

Namun demikian, berdasarkan cerita pada masa penjajahan Belanda, saat itu sempat ada buku yang berisi tentang silsilah tentang Eyang Pandita yang kemudian menjadi pemahaman masyarakat tentangnya.

Namun begitu, buku itu pun dibakar oleh para penjajah. Padahal buku itu disimpan di dalam masjid. "Sejak itu catatan tentang Eyang Pandita musnah,” kata dia.

Terlepas dari hal tersebut, masyarakat tetap meyakini bahwa Eyang Pandita maupun lainnya, memiliki jasa terhadap peradaban masyarakat di Kecamatan Bojong.

Hingga akhirnya, lanjut Abah, makam-makan tersebut dikeramatkan warga setempat. Namun, ibarat ingin mendapat keberkahan, banyak orang yang kemudian berziarah ke permakaman.

Para peziarah pun singgah, bukan hanya dari Purwakarta ataupun Kecamatan Bojong, banyak di antara mereka yang datang dari luar daerah dan mengaku masih keturunan dari para eyang ini.

“Peziarah banyaknya berasal dari daerah Sumedang, Karawang dan Subang, tapi warga sekitar Purwakarta juga ada. Dari yang mengaku masih keturunan karomah,” ujar Bah Dudung.

AYO BACA : Lima Jabatan Pratama Kosong, Pemkab Purwakarta Segera Lelang Jabatan

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar