Yamaha NMax

Masuki Pancaroba, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Deras dan Puting Beliung

  Kamis, 03 Oktober 2019   Nur Khansa Ranawati
Ilustrasi banjir akibat hujan deras. (ayobekasi.net)

BANDUNG, AYOPURWAKARTA.COM -- Saat ini, Kota Bandung dan sebagian besar daerah di Pulau Jawa tengah memasuki musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan untuk Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan dimulai pada November 2019 dan mengalami puncaknya pada Januari 2020.

Kepala Bidang Layanan Informasi Cuaca BMKG Pusat, Ana Oktavia Setiowati mengatakan meskipun saat ini rentang waktu musim Pancaroba sulit untuk diprediksi, namun pada Oktober ini, dapat dikatakan Pulau Jawa dan sekitarnya tengah memasuki pancaroba. Untuk itu, terdapat beberapa kondisi yang perlu diwaspadai.

"Kalau dulu Juli-Agustus sudah pancaroba, sekarang tidak menentu. Tapi karena awal musim hujan terjadi di November, maka Oktober adalah pancaroba. Di rentang musim itu, masyarakat mulai perlu waspada," ungkapnya ketika ditemui selepas mengisi materi pada FGD Gerakan Tanah 2019 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Auditorium Geologi, Jalan Diponegoro, Bandung, Rabu (10/2/2019).

Hal yang perlu diwaspadai, dia mengatakan, di antaranya adalah kemunculan-kemunculan hujan lebat hingga angin puting beliung. Respon dan kondisi tiap daerah ketika menghadapi perubahan cuaca tersebut juga berbeda-beda.

"Pada rentang waktu musim pancaroba, yang perlu diwaspadai adalah hujan lebat, angin kencang hingga puting beliung. Hal ini patut diwaspadai karena perubahan kondisi cuaca sangat drastis dan cepat. Indonesia cuacanya sangat lokal," ungkapnya.

Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, dia mengatakan, BMKG saat ini mulai bergerak memberikan informasi berbasis dampak dengan memanfaatkan peta kerentantan yang dimiliki Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Informasi yang dihasilkan meliputi tingkat kerentanan tiap daerah di tingkat kecamatan terhadap curah hujan yang turun di kawasan tersebut.

"Peta kerentanan BNPB itu kami overlay-kan dengan kondisi curah hujan di suatu wilayah sehingga bisa diketahui daerah tersebut punya level kerentanan apa. Kami sudah petakan level (keretanannya) berdasarkan warna," ungkapnya.

Sehingga, dia mengatakan, bila dalam satu waktu Kota Bandung dan sekitarnya diguyur hujan 50mm dalam satu hari, masing-masing kecamatan dapat melihat hal yang mungkin terjadi pada daerahnya. Informasi yang keluar mulai dari pemetaan kerentanan hingga rekomendasi tindakan warga yang perlu dilakukan.

"Kalau ada hujan 50mm itu di satu daerah bisa hanya menimbulkan genangan, sementara di tempat rentan seperti Dayeuhkolot bisa sudah banjir. Dalam kondisi seperti itu, dampak apa saja yang akan terjadi, ini informasi yang kami coba tambahkan," ungkapnya.

Informasi tersebut saat ini dapat diakses melalui laman http://signature.bmkg.go.id. Di sebelah pojok kanan situs, terdapat ikon bertuliskan "Alert" yang akan muncul dalam skala warna. Informasi tersebut, dia mengatakan, akan diperbaharui setiap hari dan berlaku selama tiga hari ke depan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->