Yamaha NMax

Cerita Ceu Titin Membuka UMKM di Kampungnya

  Senin, 02 Desember 2019   Dede Nurhasanudin
camilan UMKM buatan Titin. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

JATILUHUR, AYOPURWAKARTA.COM -- Berawal dari rasa prihatin terhadap kondisi ekonomi masyarakat sekitar membuat Titin berinisiatif membuka lapangan kerja.

Awalnya Titin bingung dengan jenis lapangan kerja yang harus dibuka karena tidak memiliki latar belakang seorang pengusaha. Namun, dengan kegigihan dan dukungan orang terdekat maka terciptalah sebuah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di rumah miliknya berlokasi di Kampung Mekarsari Ubrug, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

UMKM milik ibu dua anak itu memproduksi makanan kerupuk kulit ikan dan basreng dalam kemasan. Pertama kali mengolah camilan berbahan dasar ikan ini dirinya mengakui mengalami kesulitan pada pemasaran. Namun seiring perkembangannya, produknya mampu menyerap tenaga kerja.

"Saya mulai menggeluti camilan kerupuk ini tahun 2013 lalu, alhamdulilah bisa menyerap lapangan kerja bagi masyarakat," ungkap perempuan akrab di sapa Ceu Titin itu ditemui saat membuka stand dalam acara The 1st  International Jatiluhur Jazz Festival 2019, Minggu (1/12/2019).

Pada tahun 2013, dia mengaku melihat seorang anak meminta uang jajan, namun orang tua dari anak itu tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan kondisi ekonomi.

Kondisi itu seolah membangkitkan semangat dirinya untuk benar-benar membuka UMKM yang mampu menyerap lapangan kerja bagi masyarakat.

Selang beberapa hari Ceu Titin kemudian mengajukan pelatihan ke Balai Latihan Kerja (BLK) mengenai prosesing pertanian. Pelatihan itu diikuti 20 orang selama satu bulan.

"Selama pelatihan saya mendapat ilmu jika kita harus bisa memanfaatkan melimpahnya penghasilan alam, di Jatiluhur saya kira ikan cukup melimpah, maka dari itu usaha yang saya produksi berbahan dasar ikan," ujar Ceu Titin.

Dia mengatakan, seringkali ikan-ikan yang berlimpah hanya dikonsumsi dalam bentuk utuh dan segar. Kondisi itu berbanding terbalik dengan hasil olahan ikan yang masih minim.

Tentu saja ikan segar tidak akan bisa tahan lama. Tidak bisa juga dijadikan oleh-oleh antar provinsi dengan mudah. Untuk itu, diperlukan inovasi baru dalam pengolahan ikan agar mampu menjadikan oleh-oleh yang khas.

"Atas alasan itu juga saya memilih produksi makanan berbahan dasar ikan," kata Cek Titin.

Ada pun harga camilan hasil olahan Ceu Titin dijual Rp15.000 untuk basreng, sementara kerupuk kulit ikan Rp20.000 perbungkusnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->