Yamaha

Cara Pakar Memahami Bagaimana Kerja Virus Corona

  Selasa, 28 Januari 2020   Republika.co.id
ilustrasi -- Warga menggunakan masker untuk menghindari penyebaran virus Corona China. (AP Photo)

JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Jumlah orang yang dipastikan terjangkit virus corona di Australia terus bertambah. Para pakar kesehatan mencoba untuk lebih memahami bagaimana virus ini menyebar dan dampak bagi warga lainnya.

Pakar dokter menular, Professor John McBride dari James Cook University di Queensland mengatakan, saat terjangkit virus corona, orang akan merasakan mulai dari "sedikit sakit" sampai "sangat sakit".

Menurutnya, ada tingkat seberapa parah sakit mereka, berdasarkan pengamatan terhadap warga China yang dinyatakan sudah sembuh dan dipulangkan dari rumah sakit hingga yang meninggal.

"Mulai dari yang merasa sakit sampai yang harus masuk unit perawatan intensif," kata Professor McBride, seperti diberitakan Republika, Selasa (28/1/2020).

Kepala petugas kesehatan di New South Wales, Kerry Chant, mengatakan banyak warga yang terjangkit virus mematikan itu merasa seperti terkena flu.

"Jadi mungkin mengalami demam, sakit tenggorokan dan merasa tidak enak badan," kata Dr Chant.

"Dalam beberapa kasus, mereka mengalami sesak napas, kelelahan, dan lesu."

Menurutnya, sejauh ini warga Australia yang sakit menunjukkan gejala ringan dan tidak ada yang dirawat intensif.

Hingga saat ini sudah ada lima orang yang terpapar virus corona di Australia, empat diantaranya di negara bagian New South Wales dengan ibukota Sydney.

Belum ada pengobatan yang efektif untuk menangani virus corona, tapi pasien bisa diberi pengobatan lainnya.

"Jika anda menderita flu, kami akan mempertimbangkan untuk memberikan Tamiflu atau jika terinfeksi karena bakteri, kita akan menanganinya," kata Dr Chant.
Siapa yang paling beresiko tertular?

Profesor McBride mengatakan dampak virus korona akan lebih fatal jika menjangkit mereka yang sudah memiliki penyakit pernafasan sebelumnya, seperti sesak.

"Informasi dari China menunjukkan pasien yang memiliki masalah pernapasan merasakan dampak lebih buruk," katanya.

Tapi ada kabar baik, sejauh ini tingkat kematian akibat virus corona cukup rendah.

Profesor McBride mengatakan tingkat kematian akibat virus yang dilaporkan sekitar 5%, bahkan kurang dari itu.

Berbeda dengan SARS, sindrom pernafasan akut yang parah, yang pertama kali dilaporkan mewabah di kawasan Asia tahun 2003 lalu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO, lebih dari 8.000 orang sakit akibat SARS dengan 774 orang di antaranya meninggal. Jumlah ini sekitar 9,6% dari pasien SARS.

Profesor McBride mengatakan terlalu dini untuk berspekulasi pasien mana yang berisiko meninggal.

Seberapa besar anda tertular virus corona?

Di China, otoritas kesehatan memusatkan perhatian mereka kepada warga di provinsi Hubei di Cina, termasuk kota Wuhan, tempat dimana wabah virus corona berasal.

Mereka yang berada di kota tersebut telah diimbau untuk tidak berpergian, ke luar kota bahkan ke luar negeri, dengan sejumlah transportasi umum yang dibatasi.

"Dari pengamatan dini di Wuhan, sepertinya lebih mungkin terjadi pada warga yang lebih tua, dengan gangguan kesehatan, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi," kata Profesor McBride.

Tetapi warga yang sehat juga tetap dapat tertular virus dari orang lain yang memilikinya.

"Orang yang lebih muda, sehat tanpa masalah kesehatan juga terpapar virus ini," katanya.

Usia rata-rata mereka yang terjangkit virus adalah 57 tahun.

Para pakar kesehatan mengatakan gejala virus korona sangat mirip dengan flu, seperti yang sedang menjangkit di Australia saat ini, sehingga membuat upaya diagnosis lebih rumit.

Dirangkum dari laporan dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca disini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar