Yamaha

Imbas Produksi Menurun, Harga Cabai Terus Melonjak

  Selasa, 28 Januari 2020   Republika.co.id
sejumlah varian cabai yang dijual di Pasar Purwakarta. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Situasi pergerakan harga cabai di tingkat petani terus mengalami lonjakan imbas produksi yang diyakini menurun. Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) menyatakan, kenaikan harga cabai diperkirakan terus berlanjut hingga akhir Februari mendatang.

Ketua Umum AACI, Abdul Hamid, mengatakan, khusus jenis cabai rawit merah di tingkat petani sudah dihargai Rp65 ribu-Rp75 ribu per kilogram (kg). Adapun cabai merah besar rata-rata dihargai Rp45 ribu-Rp50 ribu per kg serta cabai merah keriting Rp55 ribu. Abdul menjelaskan, harga tersebut jauh diatas rata-rata harga normal seluruh jenis cabai berkisar Rp25 ribu-Rp30 ribu per kg.

"Harga di tingkat petani masih terus naik dan pengaruhnya ke pasar. Kemungkinan ini masih naik lagi sampai akhir bulan Februari. Kita tidak bisa apa-apa lagi," kata Abdul saat ditemui di Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Dia menjelaskan, harga cabai yang melonjak saat ini rata-rata yang ditanam pada bulan Oktober-November lalu. Terdapat kesalahan prediksi dari petani terkait datangnya musim penghujan. Pada bulan-bulan tersebut, sesuai tren tahunan merupakan musim awal penghujan sehingga membantu proses penanaman.

Namun, situasi yang dialami para petani cabai di Indonesia justru mengalami kekurangan air karena musim hujan baru tiba di akhir Desember. Hal itu mengakibatkan rusaknya tanaman sehingga hasil panen tidak maksimal. Meski tak bisa menyebutkan angka produksi, Abdul meyakini ada penurunan pasokan panen pada awal tahun ini.

Diperkirakan, intensitas panen cabai baru kembali normal pada akhir Februari. Sebab, tanaman yang dipanen rata-rata merupakan yang ditanam pada akhir bulan Februari bertepatan dengan masuknya musim penghujan. "Petani rugi sebetulnya walaupun harga mahal, dia tetap menelan kerugian karena hasil panen rusak," kata Abdul.

Tahun ini, kata Abdul, kemungkinan besar produksi nasional cabai akan mengalami penurunan akibat gangguan air pada akhir tahun lalu. "Tahun ini produksi jelas akan turun," katanya.

Mengutip data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, produksi cabai kelompok besar dan rawit tahun 2019 mencapi 2,64 juta ton. Adapun Kementan pada tahun 2020 ini tetap menargetkan peningkatan sebesar 7% menjadi 2,82 juta ton.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai di pasar relatif stabil tinggi. Cabai rawit merah dihargai paling mahal yakni Rp80 ribu per kilogram. Mansuri mengatakan, terdapat penyusutan volume cabai dalam proses distribusi dari petani ke pedagang.

Hal itu memicu pedagang harus menaikkan harga karena selain ada kenaikan harga dari petani, volume cabai yang diterima juga berkurang akibat busuk. "Pedagang  tidak ambil untung besar. Paling banyak itu hanya Rp5.000 per kilogram belum lagi kalkulasi penyusutan cabai ke pasar," ujarnya.

Menurut Mansuri, harga akan kembali turun jika pasokan dari hulu kembali normal. Ia memastikan, untuk saat ini tidak ada peningkatan permintaan di pasar sehingga kenaikan harga murni dipengaruhi suplai. "Ini low season karena pasca tahun baru dan imlek," kata dia.

Kepala Bidang Distribusi Pangan Kementan, Inti Pertiwi mengatakan, harga cabai di Toko Tani Indonesia Centre (TTIC) dalam beberapa hari terakhir juga lebih mahal dari biasanya. Cabai rawit merah dihargai Rp65 ribu per kg sementara cabai merak keriting sebesar Rp50 ribu per kg.

Sebagai informasi, TTIC merupakan outlet bahan pangan pokok di setiap daerah yang dijadikan Kementan sebagai alternatif penyediaan pasokan untuk meredam harga.

Inti mengatakan, pada Rabu (28/1), pihaknya akan mendatangkan cabai dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan dan akan didistribusikan ke Pasar Induk Kramat Jati. Menurut dia, cabai akan dijual dengan harga maksimal Rp45 ribu per kg oleh pedagang. "Besok kami upayakan harga akan turun," katanya.
 
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, lonjakan harga cabai murni dipicu oleh kondisi pasokan dan permintaan. Meski demikian, Syahrul mengklaim fluktuasi masih berada pada rentang yang normal. Kementan, kata Syahrul, telah menyiapkan sejumlah langkah untuk melakukan intervensi secara normal.

"Kami akan lihat daerah mana yang memerlukan. Kalau intervensi terlalu cepat nanti petani yang menikmati harga tersebut akan merasa dibatasi," kata Syahrul.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar