Yamaha

Corona Mewabah, Ribuan Wisatawan Batal ke Lembang

  Selasa, 17 Maret 2020   Tri Junari
wisata Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Ayobandung.com/Tri Junari)

BANDUNG BARAT, AYOPURWAKARTA.COM -- Ribuan wisatawan yang akan berkunjung ke obyek wisata Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) membatalkan rencana kunjungannya berwisata.

Hal itu terjadi akibat maraknya berita pandemi virus Corona (Covid-19) yang santer menjadi teror bagi mereka yang berencana melakukan aktivitas wisata.

Manager Operasional TWGC, Sapto Wahyudi menerangkan, obyek wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan ini memilih tutup 2 pekan dimulai sejak Senin (16/3/2020).

Penutupan dilakukan selain langkah pencegahan angka kunjungan wisatawan menurun drastis sejak marak penyebaran Corona.

"Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan penutupan selama 2 minggu sebagai antisipasi Covid-19. Dan melihat lesunya kondisi kunjungan wisatawan," kata Sapto, Selasa (17/3/2020).

Sepekan terakhir, kata Sapto, sekitar 7.000 ribu yang telah melakukan pemesanan memilih membatalkan kunjungan. Sesuai jadwal mereka akan berkegiatan outbond dan istirahat makan siang.

"Estimasinya itu 1000 tamu perhari melakukan pembatalan, hanya dari outbond dan yang sudah reservasi untuk makan saja. Belum ditambah yang menginap. Dari 49 kamar, semua kosong, sekarang jumlahnya masih kami inventarisir," terangnya.

Namun pihaknya masih melayani rombongan yang keukeuh melanjutkan jadwal kunjungan, namun hanya yang sebatas melakukan outbond dan makan.

"Dari 1000 tamu yang cancel kunjungan, ada paling 1 sampai 2 rombongan yang enggak mungkin cancel, karena mereka datang dari luar kota. Jadi kami tetap layani, tetapi dengan SOP, seperti pengecekan suhu tubuh dan menyediakan hand sanitizer," katanya.

Saat ini hanya 30% karyawan yang masih bekerja melayani kunjungan tersisa. Sedangkan sisanya sudah diberikan cuti selama 2 minggu dan mengimbau untuk istirahat.

"Dari 180 orang karyawan, hanya 50 orang yang masih masuk, karena ada sisa kunjungan. Tapi setelah kunjungan selesai, lalu bersih-bersih, mereka kita pulangkan. Mereka juga diimbau tidak keluar rumah, karena ini bukan cuti umum tapi karena pencegahan wabah," jelasnya.

Soal kerugian, Sapto mengungkapkan selama seminggu pihaknya mengalami kehilangan omzet hingga Rp1 miliar.

"Ya bisa sampai Rp1 miliar kehilangan pendapatan akibat penutupan ini. Tapi kita enggak mau ambil resiko dan menekan operasional juga, karena memang pasar sudah sangat lesu. Dibanding dengan erupsi Gunung Tangkuban Parahu, ini jauh lebih parah," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar