Yamaha

Ekonomi Mandek, Masih Banyak Rumah di Bandung Barat Belum Dialiri Listrik

  Senin, 29 Juni 2020   Tri Junari
Ilustrasi -- rumah salah seorang warga yang belum dialiri listrik di Bandung Barat. (Ayobandung/Tri Junari)

BANDUNG BARAT, AYOPURWAKARTA.COM -- Lebih dari setengah abad Indonesia menyatakan kemerdekaan, pemenuhan kebutuhan energi listrik rupanya belum merata dinikmati warga pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB). Padahal, ada setidaknya 3 pembangkit listrik tenaga air berdiri di wilayah tersebut.

Data yang dihimpun Ayobandung.com menyebut ada ratusan ribu rumah tangga di wilayah Kecamatan Gununghalu, Cipongkor, Rongga, Sindangkerta bahkan Kecamatan Saguling masih belum mendapat jaringan listrik secara mantap.

Ironisnya, tak jauh dari lokasi inilah telah dibangun PLTA Saguling, PLTA Cirata bahkan kini PLN tengah membangun PLTA Upper Cisokan. Semua PLTA ini digadang memasok listrik bagi pulau Jawa dan Bali.

Ada berbagai kendala teknis yang kerap kali menjadi biang dari ketiadaan listrik bagi warga pelosok, salah satunya perhitungan bisnis PLN yang dianggap merugi jika menyediakan jaringan bagi mereka.

Suhardi, Kepala Desa Sirnajaya di Kecamatan Gununghalu mengatakan, terdapat 6 kampung dihuni sekitar 350 kepala keluarga belum memiliki meteran listrik sendiri. Selain faktor kemiskinan, ketiadaan listrik rumah tangga didasari jauhnya jaringan tiang dari kampung tersebut.

"Ada sekitar 6 kampung dihuni 350 kepala keluarga belum mendapat jaringan listrik, biasanya tiang listrik terdekat berjarak 1-6 kilometer dari kampung. Sehingga warga keberatan harus mengeluarkan biaya pengadaan tiang dan kabel jika pemasangan baru," ungkapnya saat ditemui Ayobandung.com, Minggu (28/6/2020).

Warga kampung biasanya berinisiatif membuka jaringan listrik dengan membentangkan kabel ke kampung dengan tiang dari bambu. Sementara meteran dipasang di dekat tiang beton milik PLN, jaringan semacam ini hanya cukup untuk penerangan lampu saja.

"PLN biasanya hanya menerima pemasangan baru, tetapi jika jarak terlalu jauh mereka enggan menyediakan tiang dan kabel untuk menjangkau kampung tersebut. Mungkin perhitungan bisnisnya mereka rugi,"sebutnya.

Dengan kondisi ini, warga kampung hanya bisa memiliki listrik untuk lampu alakadarnya. Peralatan listrik lain seperti televisi, radio, kulkas bahkan setrika listrik tidak bisa berfungsi.

"Imbasnya peralatan listrik tidak bisa dipakai. Jika warga ingin membuka usaha meubeler misalnya, alat listrik pertukangan menjadi kendala. Mesin pengolah hasil pertanian juga tidak bisa," katanya.

Terpisah, Camat Gununghalu Hari Mustika mengatakan, setiap desa di Gunung halu memiliki kampung yang belum terjangkau jaringan listrik. Permasalahannya hampir sama, kemiskinan ditambah aksebilitas jaringan menyulitkan akselerasi rasio elektrifikasi listrik di wilayahnya.

Kondisi geografis perbukitan juga menjadi salah satu kendala lain penyediaan jaringan listrik hingga pemukiman pelosok. Kampung tanpa energi listrik biasanya berjarak 1-3 kilometer dari pemukiman terdekat.

"Ada berbagai faktor masih adanya rumah tangga yang belum teraliri listrik, kemampuan ekonomi salah satunya. Mereka biasanya bekerja sebagai buruh tani sehingga untuk pemasangan baru dengan membeli tiang atau kabel sesuai standar tidak mampu. Kita selalu mendorong pemerintah untuk memasukan mereka pada program berkaitan dengan pengadaan jaringan," ucap dia.

Hari mengakui, ketiadaan listrik menjadi salah satu faktor kurang berkembangnya potensi ekonomi warga. Warga menjadi sulit membuka usaha atau meningkatkan produksi pertanian karena peralatan listrik untuk menunjang usaha tidak ada.

"Misalnya untuk peralatan pertukangan atau mesin kemas tidak bisa digunakan, sehingga sulit juga mengangkat ekonomi warga," ujarnya.

Anggota DPRD KBB, Dadan Supardan mengatakan hal sama. Menurutnya, ada sekitar ratusan ribu rumah di wilayah selatan KBB belum teraliri listrik. Satu kampung bisa dihuni puluhan hingga ratusan kepala keluarga.

"Jika saya bersilaturahmi kepada warga kebanyakan mengadukan hal sama, jaringan listrik mantap. Setiap desa di selatan Bandung Barat pasti ada saja pemukiman tanpa listrik,"sebut politisi Golkar daerah pemilihan wilayah selatan KBB itu.

Dadan menilai, kondisi ini tentu saja kurang wajar terjadi, pasalnya jarak antara PLTA Saguling dengan warga tanpa listrik ini terbilang dekat.

Jika pembangkit yang ada bisa memasok pulau Jawa hingga Bali, kenapa pemukiman yang bisa dibilang berada di sekitar pembangkit tidak menikmatinya.

"Ironis memang, pemukiman di sekitar pembangkit tidak mendapat manfaat listrik. Apa karena pertimbangan bisnis mereka akhirnya dibiarkan, jangan seperti itu," katanya.

Menurutnya, memang butuh anggaran yang besar agar jaringan listrik bisa menjangkau wilayah pelosok. Untuk pemasangan jaringan 1 tiang listrik dengan kabel standar saja butuh Rp4-6 juta.

"Butuh anggaran yang cukup besar agar mereka bisa menikmati listrik, tetapi juga harus digarisbawahi bahwa pembangunan pembangkit itu bertujuan memberi pemerataan bagi rakyat. Prioritaskan hal ini," tegasnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar