Yamaha

Dibuat Turun Temurun, Gula Aren Khas Pasirmunjul Minim Pemasaran

  Rabu, 08 Juli 2020   Dede Nurhasanudin
Gula aren buatan warga Pasirmunjul. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

SUKATANI, AYOPURWAKARTA.COM -- Wilayah Desa Pasirmunjul Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta masih didominasi perkebunan. Di perkebunan itu banyak terdapat pohon aren menjulang tinggi yang tidak disia-siakan warga sekitar untuk menunjang hidup.

Buah dari pohon itu biasa dibuat menjadi kolang-kaling. Namun air dari pohon itu bisa dijadikan pula penganan gula aren. Hal itu seperti dilakukan Ujang Aeful (47) yang mengaku bahwa profesi membuat gula aren di kampungnya sudah turun temurun.

"Saya membuat gula aren sejak kecil, awalnya belajar dari orangtua kemudian memulai produksi sendiri sampai sekarang," kata warga Kampung Hegarmanah, Desa Pasirmunjul itu, Rabu (8/7/2020).

Teknik pembuatan gula aren sendiri diawali dengan menyadap air dari pohon aren, nira hasil sadapan kemudian direbus selama 4-5 jam tergantung banyaknya nira yang dimasak di atas tungku perapian.

Jika air nira sudah berubah warna ke merah-merahan kemudian diambil sedikit lalu dimasukan ke dalam air untuk memastikan tingkat kematangan. "Kalau sudah matang kemudian dituangkan ke dalam cetakan terbuat dari bambu. Jika sudah kering gula dibungkus menggunakan daun pisang kering dan diikat. Gula aren pun siap dipasarkan. Satu bungkus gula aren saya jual Rp10.000," ujar Ujang.

Dalam sehari, ia mengaku hanya mampu memproduksi air nira dijadikan gula aren paling banyak 120 liter. Namun jumlah itu menyusut ketika jadi gula aren. "Setiap harinya tidak bisa ditentukan (jumlah gula aren yang diproduksi), tergantung banyaknya nira yang dihasilkan, karena setiap pohon aren berbeda-beda," ucap dia.

Minim Pemasaran?

Dalam proses pembuatan gula aren, bukan berarti Ujang tak menemui kendala. Dia mengaku sering terkendala dalam hal pemasaran dan sulit juga mendapatkan kayu bakar. "Masalah penjualannya itu sulit karena gak ada pemasarannya. Ditambah lagi kalau kayu bakar di kebun sendiri habis, kepaksa harus beli," kata dia.

Ia sangat berharap pada peran serta aparat desa atau pemerintah daerah untuk dapat memperhatikan para pembuat gula aren agar tetap bertahan."Intinya sih pemasaran yang harus dibantu itu," ujar Ujang berharap.

Sementara itu, menanggapi keluhan para perajin gula aren khususnya dalam pemasaran, Kepala Desa Pasir Munjul Muhamad Hilman Nurzaman mengatakan bahwa pihak desa telah berupaya berkoordinasi dengan balai latihan kerja (BLK) agar gula aren yang dibuat warga bisa menjadi ikon Pasirmunjul.

"Kami mencoba bekerjasama melalui BUMDes terkait gula aren untuk dapat diperjualbelikan ke lintas daerah bukan hanya di Purwakarta," tambahnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar