Yamaha

Presiden Wanti-wanti Pesantren Terapkan Protokol Kesehatan

  Selasa, 14 Juli 2020   Republika.co.id
Santri. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyampaikan amanat Presiden Joko Widodo yang mewanti-wanti penyelenggara pendidikan berbasis asrama, seperti pesantren secara ketat menjalankan protokol kesehatan.

Jokowi menegaskan itu menyusul temuan klaster baru di Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) di Bandung pada pekan lalu dengan 1.280 kasus positif sekaligus.

“Pesan presiden, terkait dengan kegiatan pendidikan yang berbasis asrama. Sehingga ini harus menjadi atensi semuanya. Beberapa hari yang lalu sekolah TNI di Cimahi terdapat kasus positif dengan jumlah sangat banyak,” kata  Doni Monardo usai mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Senin (13/7/2002).

Pengelola pusat pendidikan berbasis asrama, baik pesantren, pendidikan militer, atau pendidikan lain yang memfasilitasi siswanya dengan asrama, diminta untuk lebih ketat lagi dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Diingatkan semua boarding school termasuk pesantren, untuk hati-hati. Karena kalau ada satu orang saja yang terpapar, maka potensi terpapar yang lain pun sangat tinggi,” ujar Doni.

Selain itu, ujar Doni, presiden juga menekankan pentingnya memperluas pelacakan dan pengecekan apabila ditemukan ada satu saja kasus positif di lingkungan asrama. Pelacakan dan tes Covid-19 harus dilakukan bukan hanya kepada mereka yang bestatus PDP atau ODP, namun bagi orang tanpa gejala (OTG) yang memang memiliki riwayat kontak dekat dengan pasien positif.

“Tentunya kalau positif harus betul-betul disiplin untuk melakukan karantina atau isolasi mandiri. Termasuk juga karantina atau isolasi yang disediakan oleh pemerintah di daerah,” kata dia.

Doni Monardo menambahkan, dari hasil rapat terbatas, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Gugus Tugas lebih banyak melibatkan ulama dan tokoh agama di daerah dalam sosialisasi protokol kesehatan.

Dalam rapat terbatas itu, Presiden Jokowi memang menekankan upaya maksimal untuk menekan laju penambahan kasus dengan cara mengintensifkan sosialisasi dan kampanye agar masyarakat patuh menjalankan protokol kesehatan.

“Ini juga menjadi penekanan Wapres untuk melibatkan para ulama di seluruh daerah. Agar sosialisasi dipahami. Kenapa? Karena masih ada sejumlah pihak yang menganggap ini adalah konspirasi. Covid ini rekayasa,” ujar Doni.

Padahal, ujar Doni, fakta dan data jelas-jelas menunjukkan bahwa jumlah pasien yang meninggal dengan status positif Covid-19 sudah tembus angka 3.500 di seluruh Indonesia. Di dunia, jumlahnya jauh lebih tinggi yakni 550 ribu korban jiwa.

“Jadi ini nyata, ini fakta. Covid ini ibaratnya, mohon maaf, adalah malaikat pencabut nyawa bagi mereka yang rentan,” ujar Doni.

Covid-19 memang bisa menginfeksi orang yang sehat dan bugar secara fisik tanpa menunjukkan gejala apapun. Pasien ini disebut sebagai OTG. Pasien positif tanpa gejala inilah yang berbahaya karena tanpa sadar bisa menularkan Covid-19 kepada orang lain yang lebih rentan dan memiliki kualitas kesehatan lebih rendah.

Siapa saja yang kelompok rentan? Di antaranya adalah orang berusia lanjut di atas 60 tahun dan orang-orang yang memiliki komorbiditas atau penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker, asma, TBC, dan penyakit lainnya.

“Mohon kiranya mereka yg memiliki komorbid ini untuk tidak melakukan aktivitas dulu. Tidak melakukan kegiatan keluar rumah. Kalau toh harus keluar rumah pun harus menjaga jarak, menghindari kerumuan. Jangan mendatangi tempat berisiko terjadinya penularan,” kata jenderal TNI AD bintang tiga tersebut. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar