Yamaha

Jualan Sepi saat PSBM, Pedagang Makanan di Purwakarta Pasrah

  Jumat, 23 Oktober 2020   Dede Nurhasanudin
Febrian, pedagang martabak di jalan sudirman tengah bersiap berjualan.(Ayopurwakarta/Dede)

PURWAKARTA KOTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Febrian tampak sibuk mempersiapkan segala keperluan sebelum memulai berjualan.

Ia persiapkan diri mulai membersihkan gerobak, membuat adonan hingga peralatan yang diperlukan.

Ya, Febrian adalah salah satu pedagang martabak yang biasa mangkal di Jalan Raya Sudirman (Pasar Jumat) Purwakarta.

"Saya biasa berjualan di sini mulai pukul 17.00-01.00 WIB," ujar dia, Jumat, (23/10/2020).

Ia mengaku hasil berjualan martabak memanfaatkan keramaian kota cukup menjanjikan meski besaran pendapatan tidak tentu, minimal Rp500.000 bisa diperoleh selama delapan jam buka lapak di sini.

Namun sejak beberapa hari terakhir, pendapatan itu menurun dibandingkan hari biasanya.

Penurunan mulai dirasakan sejak pemerintah memutuskan berlakukan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) dan menutup Jalan Raya Sudirman mulai pukul 21.00-23.00 WIB.

"Tentu berdampak pada penghasilan setiap harinya, sekarang balik modal Rp250.000 saja sudah alhamdulilah," ujar pria berusia 25 tahun itu.

Setelah diberlakukan PSBM, Febrian mengaku terpaksa mengurangi bahan baku martabak dari 4 kilogram menjadi 2 kilogram untuk menghindari kerugian.

Bahkan, ia juga mengaku tutup sementara selama penutupan jalan dilakukan petugas.

"Kalau sudah pukul 23.00 WIB saya ke sini lagi, dan alhamdulilah ada saja pembeli," ucap pria asal Sumatera itu.

Ia mengaku menerima apa yang menjadi kebijakan pemerintah karena hal itu untuk kebaikan bersama memutus rantai penyebaran Covid-19.

Ia berharap dengan diberlakukannya PSBM dapat menekan kasus sehingga penutupan jalan tidak diperpanjang.

"Yah mudah-mudahan PSBM tidak diperpanjang," ujar Febrian.

Penurunan penghasilan juga dirasakan pedagang lain, Solihin (40) terpaksa mengurangi jumlah nasi yang dia bawa dari sebelumnya 5 liter menjadi 2 liter.

"Sekarang saya hanya bawa 2 liter nasi. Ya itu karena saya buka pukul 17.00 WIB dan tutup pukul 21.00 WIB dengan membawa uang Rp30.000-Rp70.000," kata dia.

Padahal sebelumnya, Solihin mengaku biasa berjualan mulai pukul 17.00-03.000 WIB dengan membawa hasil berjualan tak kurang dari Rp200.000-Rp300.000.

"Yah mau gimana lagi, daripada tidak dagang meski penghasilan menurun dijalani saja," ujar Solihin.

Sementara itu, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mengaku tidak tega menerapkan PSBM karena akan berdampak pada sektor ekonomi.

Para pedagang juga akan merasakan dampak dari kebijakan ini, menutup jalan sementara pada PSBM.

Tetapi, Anne menegaskan kebijakan yang dikeluarkan ini semata untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

"Kami tak tega sebetulnya, karena warga Purwakarta kan sekarang lagi bangkit. Tapi, sudah ada PSBM lagi. Ya mau bagaimana lagi, karena angka jumlah pasien positif corona di Purwakarta semakin mengkhawatirkan," kata Anne ditemui sehari sebelumnya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar