Yamaha

Disiksa Ibu Tiri, Bocah asal Subang Berkelana hingga Tasik

  Kamis, 19 November 2020   Heru Rukanda
Komisioner KPAID Jabar, Asep Nurjaeni bersama MR di Sekretariat HMI Kota Tasikmalaya, Kamis (19/11/2020). (Ayotasik.com/Heru Rukanda).

TAWANG, AYOTASIK.COM -- Seorang bocah berusia 12 tahun asal Subang, Jawa Barat, berinisial MR, mengaku nekat kabur dari rumah lantaran kerap mendapatkan kekerasan dari ibu tirinya. Dia meninggalkan rumah sejak kelas 2 sekolah dasar (SD) dan kini sudah berusia 12 tahun setara kelas 6 SD.

Sepanjang waktu itu, MR berkelana hingga akhirnya sampai di Kota Tasikmalaya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jawa Barat, Asep Nurjaeni  yang mendapati informasi ini langsung mendatangi MR yang sementara waktu bermukim di sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Tasikmalaya di Jalan Sutisna Senjaya.

“Saya langsung ke sini dan ternyata memang benar ada anak laki-laki berinisil MR yang diduga telantar. Saya langsung ajak komunikasi asal muasalnya dan kenapa sampai nekat kabur dari rumah orang tuanya,” ujar Asep, Kamis (19/11/2020).

Asep menuturkan, dari hasil komunikasi dengan MR, ternyata bocah 12 tahun ini mengalami broken home.  MR mengaku kabur dari rumah lantaran kerap mendapatkan tindak kekerasan dari ibu tirinya.

“Yang kami khawatirkan itu anak ini mendapat kekerasan di jalanan. Dan ternyata memang benar dari keterangan si anak, dia beberapa kali sempat menerima perlakuan kekerasan dari orang-orang tidak bertanggungjawab selama hidup di jalanan,” ucap Asep.

Menurutnya, MR ini anak yang pintar. Dia bahkan mencatat dan menggambarkan pengalamannya dalam buku tulis. Selama lebih kurang 5 tahun menjadi anak jalanan, MR tidur di emper-emper toko. Dia berkelana ke beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Purwakarta, Garut, dan akhirnya ke Kota Tasikmalaya.

“Saya lihat terdapat beberapa bekas luka di wajah dan badannya. Itu di wajah sebelah kiri masih nampak luka lebam habis dipukul orang saat dipalak oleh orang di daerah Bandung. Bahkan MR sempat mengalami tindakan kekerasan seksual saat berada di Jakarta,” ungkapnya.

Ia menegaskan, secara umum kondisi kesehatannya baik. Terkait persoalan ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan KPAID Tasikmalaya untuk merapat dan melakukan terapi psikisnya MR dulu. Pihaknya juga mengaku akan berkoordinasi dengan KPAID Subang untuk mencari tahu keberadaan orang tuanya.

“Yang paling utama dan akan dilakukan adalah bagaimana memulihkan kembali kondisi psikis anak. Untuk sementara MR akan dibawa ke kantor KPAID Tasikmalaya untuk dirawat dan mendapatkan terapi dari psikolog,” ujarnya.

MR kagumi Susi Pudjiastuti

Ia menambahkan, bocah 12 tahun ini bisa diajak komunikasi dengan baik. Setiap perjalanan yang dilakukanya dia tulis dalam buku dan ingatannya kuat. Bahkan dalam buku catatannya, MR membuat surat untuk DPR soal Omnibus Law. MR pun mengagumi sosok Susi Pudjiastuti mantan Menteri KKP yang dianggapnya tegas dalam menindak pencuri ikan dengan menenggelamkan kapalnya.

“Nanti kami pikirkan apakah anak ini harus dikembalikan ke orang tuanya, menunggu hasil dari penelusuran teman-teman dari KPAID Subang,” ucapnya.

Ketua KPAID Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan, pihaknya sangat siap untuk merawat MR dan memfasilitasinya untuk pulang ke Subang. “Kami akan lalukan dulu treatment kepada ananda MR agar kondisi psikisnya membaik karena selama ini hidup di jalanan dengan berbagai pengalaman yang dialaminya termasuk pemulihan trauma tindak kekerasannya,” ujar Ato.

Sementara itu, MR mengaku anak dari Didik dan Eni. Dalam buku tulisnya dia juga menuliskan nama diri berikut tempat tanggal lahir serta alamat lengkap rumahnya di Subang.

“Awal kabur dari rumah itu langsung ke Jakarta. Gak tahu kenapa pengen saja ke sana. Sekarang gak mau lagi ke Jakarta, di sana gudangnya Corona. Saya tak mau pulang rumah orang tua takut disiksa lagi,” ujar MR.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar