Yamaha

Epidemiolog Angkat Bicara usai Covid-19 di Indonesia Tembus Satu Juta Kasus

  Selasa, 26 Januari 2021   Republika.co.id
ilustrasi -- operasi penggunaan masker (Ayobandung.com)
JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono mengaku tak kaget melihat akumulasi kasus Covid-19 di Indonesia yang tembus angka satu juta per Selasa (26/1) hari ini. Pandu menilai, seharusnya angka kasus hari ini sudah terjadi sejak lama.
 
"Sudah saya prediksi, bahkan seharusnya satu juta kasus itu sudah lama terjadi. Angka hari ini kan hanya yang terkonfirmasi, padahal yang terinfeksi namun tidak terdeteksi jauh lebih banyak," ujarnya dilaporkan Republika.co.id, Selasa (26/1/2021).
 
Jika tidak ada perubahan strategi yang dilakukan pemerintah, Pandu memprediksi, tambahan kasus bisa terus terjadi, bahkan bisa berlipat ganda. Pandu mengatakan, jika pemerintah ingin melambatkan kasus, pengetatan aktivitas masyarakat hingga 100% bisa dilakukan. 
 
Pandu melanjutkan, kebijakan pembatasan ini sama seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat awal pandemi Maret 2020 lalu. Kemudian, ia meminta pemerintah Indonesia juga membuat perencanaan yang bagus. 
 
Selain itu, Pandu meminta Presiden Joko Widodo yang memimpin langsung penanganan Covid-19, tidak seperti sekarang yang ada di tangan Menko Perekonomian Airlangga Hartato atau Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo. Kemudian, Pandu juga meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang memimpin upaya penanganan Covid-19 termasuk 3T, yaitu tes, pelacakan, dan tindak lanjut.
 
"Jangan mengulangi kesalahan tahun lalu. Itu kalau ingin kasus harian Covid-19 tidak terus bertambah dengan cepat," katanya.
 
Jika penambahan kasus terus terjadi, ia menegaskan, efeknya adalah tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang bebannya semakin berat. Kini, ia menegaskan, kemauan ada di tangan Presiden, apakah langsung melakukan tindakan gawat darurat untuk mengatasi hal ini. Terkait vaksin untuk mengatasi pandemi, ia meminta pemerintah juga jangan hanya mengandalkan imunisasi. Ia meminta upaya 3T harus dilakukan lebih serius. 
 
"Kalau berani berinvestasi pada vaksin maka harus berani investasi untuk dana dan tenaga yang memperkuat 3T. Sebab, kalau Presiden hanya mengandalkan vaksin untuk menekan kasus harian yang sudah satu juta lebih agak susah," katanya.
 
Pandu mengaku ragu vaksin untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) dan mengatasi pandemi bisa segera dilakukan. Ia meragukan kecepatan pemberian vaksinasi untuk 181,5 juta jiwa bisa diwujudkan dalam 15 bulan.
 
"Menurut saya tidak mungkin. Sekarang saja lamban banget proses imunisasinya," katanya. 
   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar