Yamaha

Cerita Penerjemah Sunda Pertama di Zaman Kolonial

  Kamis, 25 Februari 2021   Netizen
Raden Soema di Pradja di tengah keluarga. Ia adalah penerjemah Sunda (1885-1909), setelah Raden Kartawinata. Sumber: Koleksi Sam Askari Soemadipradja.

AYOPURWAKARTA.COM -- Akhir 1871, Raden Kartawinata menemani gurunya, K.F. Holle, berkeliling ke Jawa Tengah. Saat sedang bertandang ke rumah Tuan Jacobson di Wonosobo, tuan kebun Waspada itu menerima surat pengangkatannya sebagai Adviseur Honorair voor Inlandsche Zaken atau penasihat kehormatan untuk urusan pribumi, dengan besluit gubernur jenderal tanggal 27 Desember 1871 No. 17. Menurut Raden Demang Soerja Nata Legawa alias Kartawinata (“Pangeling ngeling ka Padoeka Toewan Karel Frederik Holle, Adviseur-Honorair voor Inlandsche Zaken”, dalam Mitra noe Tani Djilid XIII, 1897: 13), “Waktoe njandak eta besluit toewan Holle noedjoe keur aja di Wonosobo karesidenan Bagelen, mertamoe di boemina toewan Jacobson; njaharita pisan andjeunna djengkar ka Djawa diiring koe koela teja”.

Holle memang sering ditemani oleh R.H. Moehamad Moesa dan anak-anaknya bila bepergian jauh. Menurut Kartawinata (1897: 11), Holle sudah tiga kali berkeliling Pulau Jawa dari timur hingga ke barat, dari pesisir selatan ke pesisir utara, untuk memberi penerangan pelbagai aturan gupernemen. Ketika berkaitan dengan keluarganya, ia menyatakan “Samalah mimitina ngadjadjah diiring koe raka koela Dalem Adipati Lebak, keurna anom keneh, ka doewa kalina disarengan koe sepoeh koela; noe sakali deui diiring koe koela pribadi, nja eta dina tomperna taoen 1871, waktoe andjeunna ngider ka karesidenan Samarang, Soerakarta, Jogjakarta, Kedoe djeung Bagelen” (Bahkan waktu kali pertama berkeliling ditemani oleh kakakku Bupati Lebak, ketika masih jejaka, kedua kalinya dikawani oleh ayahku; yang sekali lagi ditemani oleh diriku pribadi, yaitu menjelang akhir tahun 1871, saat beliau berkeliling ke Keresidenan Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Kedu dan Bagelen).

Pernyataan di atas, bila dikaitkan dengan riwayat pendidikannya di Sumedang, mengandung arti pada akhir 1871 Kartawinata sudah keluar dari Sekolah Bupati Sumedang dan kembali lagi ke Limbangan. Meskipun belum ada keterangan, apakah setelah kembali itu, ia bekerja sebagai kaliwon atau jurutulis di Kabupaten Limbangan seperti kawannya Raden Sadeli di Kabupaten Sumedang sejak 1869. Selain itu, pernyataan di atas juga dapat dibaca sebagai bukti kedekatan antara Holle dengan Kartawinata serta anggota keluarga penghulu besar Limbangan.

Dengan kedudukannya yang baru, sebagai penasihat kehormatan untuk urusan pribumi, Holle jadi punya kesempatan untuk merekomendasikan muridnya terkasih, Kartawinata, agar punya kedudukan atau jabatan yang sesuai dengan bidang yang ditunjukkan oleh Kartawinata selama di sekolah. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Kartawinata adalah bintangnya dalam pelajaran bahasa Belanda. Selain itu, menurut Edi S. Ekadjati (Ceritera Dipati Ukur, Karya Sastra Sejarah Sunda, 1982: 161 dan 232), sejak sekolah di Sumedang, Kartawinata telah menerjunkan diri dalam dunia sastra.

Salah satu buktinya adalah minatnya pada karya Mas Saca Praja yang dibuat dalam bentuk tembang. Pada naskah yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI berkode SD 117 itu tertulis “Soendaasch gedicht over Mas Satja Pradja patinggi in de Kampoeng Tjiharoes, Preanger Regentschappen, door mij Karta Winata Leerling op de partikuliere school te Soemedang”. Ini barangkali juga sedikit banyak pengaruh dari K.F. Holle yang mempunyai minat besar terhadap epigrafi, filologi dan kesusastraan Sunda, sehingga dengan demikian Kartawinata pada sisi ini meniru jejak langkah mentornya tersebut.

Memang terbukti, Holle merekomendasikan Kartawinata untuk menduduki sebuah posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, yakni menjadi penerjemah bahasa Sunda. Saya kira ini terbukti di balik lahirnya besluit gubernur jenderal bertanggal 14 Juni 1872, yang hendak mempekerjakan seorang magang juru bahasa sekaligus penerjemah untuk bahasa Sunda (“een elève-tolk tevens translateur voor de Soendasche taal”) dengan tunjangan bulanan sebesar 75 gulden per bulan. Setelah cukup latihannya akan diangkat menjadi juru bahasa dan penerjemah bahasa Sunda (“tolk tevens translateur voor de Soendasche taal”) dengan gaji bulanan sebesar 150 gulden serta penambahan gaji setiap tahunnya sebesar 10 gulden, hingga akhirnya bergaji 300 gulden per bulannya (De locomotief, 22 Juni 1872).

Berbicara mengenai posisi penerjemah Sunda dalam tatanan birokrasi kolonial, memang sebelum 1872 belumlah ada. Ini berbeda dengan penerjemah untuk bahasa Jawa yang sudah lama dan mapan. Seperti yang dapat kita ikuti dari tulisan A. Teeuw (“Taalambtenaren, taalafgevaardigen en Indonesisch taalwetenschap”, dalam Forum der Letteren, Jaargang 1973, 1973: 163-180), Vincent J.H. Houben (“Menerjemahkan Jawa ke Eropa: Kiprah Keluarga Winter,” dalam Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, 2009: 1067-1076) dan Stuart Robson (“Catatan tentang Karya-karya Terjemahan C.F. Winter ke dalam Bahasa Jawa”, dalam Sadur, 2009: 1077-1081).

Menurut ketiga penulis tersebut, kebutuhan di balik tenaga penerjemah terjadi setelah 1800 ketika bangsa kolonial berusaha meraih kedaulatan penuh di Jawa. Realisasinya, sejak 1806 J.W. Winter diangkat sebagai penerjemah bahasa Jawa di Solo. Anaknya C.F. Winter (Sr) melanjutkan karier tersebut antara 1825-1859.  Kemudian J.C. Gericke mendirikan Institut Bahasa Jawa di Solo pada 1832. Di situlah C.F. Winter (Jr) belajar bahasa Jawa, lalu diangkat menjadi magang penerjemah (1841) dan memegang jabatan penerjemah hingga 1865.

Kembali ke Kartawinata. Setelah terbitnya besluit 14 Juni 1872, disusul pengangkatan Kartawinata sebagai seorang magang juru bahasa sekaligus penerjemah untuk bahasa Sunda (“een elève-tolk tevens translateur voor de Soendasche taal”). Berita pengangkatannya dapat disimak dalam Java-Bode edisi 19 Juni 1872, sementara di pelbagai koran di negara Belanda disiarkan pada 27 Juli 1872, antara lain dalam Algemeen Handelsblad, Arhenhemsche Courant, dan Het Vaderland. Sebagaimana yang terlihat dari karya-karya terjemahan 1872, saat itu Kartawinata masih tinggal di Limbangan.

Setahun setelah pengangkatan Kartawinata, Holle kembali mengajukan rekomendasi demi murid tercintanya. Ini diungkapkan Holle pada 30 November 1873 dan didukung oleh Residen Priangan Van der Moore. Hasilnya, pada 10 Februari 1874, Kartawinata diangkat menjadi asisten penerjemah bahasa Sunda (“de adjunct translateur voor de Soendasche taal”) dengan gaji bulanan sebesar 125 gulden (Tom van den Berge, Karel Frederik Holle, Theeplanter in Indie 1829-1896, 1998:99). Sebagaimana yang terlihat dari karya-karya terjemahan dari 1874, Kartawinata pindah tempat kerjanya ke Bandung.

Untuk menunjang dan membuat gengsi asisten penerjemah Sunda, pemerintah kolonial menerbitkan besluit 3 Desember 1874 no. 10 tentang kostum atau pakaian kebesaran yang dapat dikenakannya (“Kostuum voor den adjunct-translateur voor de Soendasche taal”). Dalam keputusan tersebut, asisten penerjemah Sunda dapat menggunakan pakaian yang sama seperti yang digunakan oleh aspiran penerjemah Jawa di Solo, sesuai dengan dasar besluit 24 Maret 1863.

Perkembangan selanjutnya untuk calon penerjemah Sunda adalah terbitnya besluit 19 Desember 1976 tentang pengangkatan seorang magang juru bahasa bahasa Sunda (“Indienststelling van een elevetolk voor de Soendasche taal”). Di dalamnya antara lain disebutkan bahwa magang akan diberi tunjangan bulanan sebesar 50 gulden dan setelah dua tahun belajar akan dibayar 75 sebulannya. Dari De Locomotief edisi 27 Januari 1877 ditambah dengan Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1878  (1877: 120), saya jadi tahu, magang yang baru diangkat tersebut adalah Raden Koesoema Widjaja dan Kartawinata juga diangkat menjadi juru bahasa dan penerjemah bahasa Sunda (“tolk, tevens translateur voor de Soendasche taal”) secara penuh. Keduanya diangkat secara bersamaan pada 20 Januari 1877. Tempat dinasnya tetap di Bandung.

Empat tahun kemudian, seorang magang penerjemah bahasa Sunda bertambah lagi. Kali ini berbangsa Belanda, H. Laurens. Menurut Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1882 (1881: 99), Laurens diangkat pada 30 Januari 1881. Selanjutnya pada 1885 diangkat lagi seorang magang penerjemah Sunda, yaitu Raden Soema di Pradja. Menurut Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1886 (1885: 123), Soema di Pradja diangkat pada 12 September 1885.

Dalam perjalanannya, Soema di Pradja menarik untuk disimak, karena seperti Kartawinata, kariernya di bidang penerjemahan terus berlanjut. Sebelum ke situ, ada baiknya juga menyimak biodata ringkasnya sebagaimana yang saya dapati dari cicitnya Sam Askari Soemadipradja (melalui komunikasi pribadi pada 20 Februari 2021). Pada permukaan arloji rantai milik kakeknya Sam tertulis, “Raden Soema di Pradja, geb. 9 Jan. 1864, overl. 23 Dec 1909” atau Raden Soema di Pradja lahir pada 9 Januari 1864 dan meninggal pada 23 Desember 1909. Tempat lahirnya di Sumedang dan meninggal di Cicalengka.

Setelah menjadi magang, pada 28 Januari 1891, Soema di Pradja diangkat menjadi juru bahasa dan penerjemah bahasa Sunda secara penuh (Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1892 , 1891: 123). Setelah 15 tahun, ia diangkat menjadi “ondercollecteur” di Mangunreja, Tasikmalaya, pada 31 Maret 1906 (Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1907 , 1906: 168). Setahun kemudian, pada 15 Agustus 1907, Soema di Pradja diangkat menjadi “ondercollecteur” di Cicalengka, Bandung (Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1908 , 1907: 170).

Hasil terjemahan Soema di Pradja antara lain saya temukan pada Mitra noe Tani (MnT), buku berseri yang digagas K.F. Holle sejak 1874 hingga menjelang kematiannya pada 1897. Pada MnT djilid X (1893), ada tulisan “Hal ngome goela aren, kalapa djeung goela lontar” karya Holle, yang diterjemahkan oleh Soema di Pradja. Kemudian tulisan lainnya yang diterjemahkan oleh Soema di Pradja antara lain “Bab Laoek Tjai” karya Raden Toemenggoeng Tjakranagara (MnT djilid XIII, 1897) dan “Hal Melak Katjang Kadele atawa Katjang Djepoen” karya Raden Tumenggung Tjakranagara (MnT djilid XIV, 1899).

Dari uraian di atas, dapat saya ringkaskan bahwa Raden Kartawinata bisa dibilang sebagai juru bahasa dan penerjemah bahasa Sunda pertama dalam birokrasi kolonial. Semuanya berkat kecerdasannya yang didukung dengan kedekatannya dengan K.F. Holle. Kariernya di bidang ini dilaluinya melalui tiga tahapan, yakni élève-tolk tevens translateur (1872-1874); adjunct translateur (1874-1877); dan tolk, tevens translateur (1877-1905). Setelah Kartawinata, penerjemah Sunda lainnya bertambah dengan Koesoema Widjaja, H. Laurens, dan Soema di Pradja.

(Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda)

Tulisan ini telah dimuat Ayobandung.com dengan judul Penerjemah Sunda Pertama.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar