Yamaha

Peluang Kebangkitan Industri TPT di Tengah Pandemi Covid-19

  Rabu, 27 Januari 2021   Adi Ginanjar
Pekerja menyelesaikan pembuatan kain sarung tenun di industri kerajinan sarung tenun Desa Sukamukti, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Kamis (28/12/2017). (Naufal/ayobandung.com)

BANDUNG, AYOPURWAKARTA.COM -- Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) optimistis industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat mampu bersaing bersama daerah lain saat maupun sesudah pandemi Covid-19.

Mengutip dari Ayobandung.com, Sekjen API Rizal Tanzil mengatakan, peluang TPT bisa berkembang yakni dengan menggenjot industri berbasis teknologi baik sektor hulu maupun hilir.

"Solusi untuk Jabar pengembangan TPT berbasis teknologi memiliki nilai lebih banyak.  Karena tersentuh teknologi lebih update (dekat dengan ibu kota Jakarta," ujarnya saat webinar Satgas Pemulihan Ekonomi Jabar, Rabu (27/1/2021) malam.

Menurutnya, apabila  produk TPT di Jabar tidak menyeimbangkan antara hulu dan hilir maka keberadaan industri tidak akan mampu bersaing. Selama ini misalnya, Jabar masih mengandalkan sektor hilir seperti garmen, alhasil banyak industri gulung tikar atau relokasi ke wilayah Jawa Tengah.

"Ini menjadi pertimbangan cukup logis (TPT berbasis teknologi), bagaimana roadmap TPT ke depan. Memiliki keunggulan dibandingkan provinsi yang lain," katanya.

Dia menjelaskan, di lokasi segitiga Rebana misalnya, beberapa industri baru di sektor hulu bisa didirikan seperti memproduksi bahan baku fiber atau polyester.

"Industri ini memang  karakteristiknya padat modal. Pemerintah bisa investasi di hulu sehingga nantinya bisa diproses dari hulu ke hilir. Sebab selama ini sebagian besar bahan baku masih mengandalkan impor. Ini bisa menjadi peluang Jabar," ujarnya.

Pihaknya pun menyambut baik adanya imbas safeguard PMK Nomor 53, 54, dan 56 memberikan peluang industri dalam negeri untuk tumbuh.

Tokoh masyarakat industri TPT Jabar,  Ade Sudrajat mengatakan, saat pandemi Covid-19 ini industri TPT mengalami kesulitan, kecuali beberapa industri yang tidak mengalami seperti mesin cuci yang penjualannya luar biasa.

"Tapi TPT seperti industri garmen orientasi ekspor tidak terjadi lonjakan dirumahkan (PHK)," katanya.

Dia menjelaskan, pandemi merupakan suatu ujian belum dirasakan sebelumnya dan tidak bisa diprediksi jauh-jauh hari. Kondisi ini berimbas perekonomian seluruh dunia termasuk Amerika dan Tiongkok.

"Masyarakat kita tidak bisa membeli dengan harga yang kompetitif produk lokal, mereka lebih memilih barang dari Tiongkok," katanya.

Pertama hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan daya saing yakni konsolidasi internal bagaimana meningkatkan SDM kompetensi lebih profesional dan lebih produktif.

"Serta pemerintah memiliki sumber daya pendanaan dari APBN untuk industri itu," ujarnya.

Kedua, konsolidasi untuk peremajaan mesin pencelupan dan printing.

"Dengan adanya kedua hal itu mudah-mudahan industri TPT bisa kembali bangkit seperti sebelum pandemi bahkan lebih," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, M. Arifin Soendjayana, mengatakan, jumlah industri besar yang beroperasi kegiatan industri di Jabar 6.231. Artinya, meskipun saat kondisi pandemi untuk industri besar masih tetap eksis.

"Sekarang dengan adanya AKB bisa lebih baik lagi," ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar