Selama Pandemi, Sakit Kepala Kronis Banyak Dikeluhkan

  Selasa, 09 Maret 2021   Republika.co.id
Ilustrasi Sakit kepala (Pixabay)

JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Sakit kepala kronis semakin banyak dikeluhkan oleh pasien pada masa pandemi Covid-19. Keluhan ini tak hanya berasal dari pasien Covid-19, tetapi juga non-Covid-19.

Sakit kepala kronis berbeda dengan sakit kepala episodik. Seseorang dapat dikatakan mengalami sakit kepala kronis bila gejala sakit kepala atau migrain terjadi dua hari sekali, atau setidaknya 15 hari dalam sebulan.

Gejala sakit kepala kronis bisa berlangsung lebih dari tiga bulan. Kondisi ini tentu dapat mengganggu kualitas hidup.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, ada beragam faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya sakit kepala kronis. Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi terbaru dalam The Journal of Headache and Pain.

Dalam studi ini ada ribuan partisipan yang melaporkan bahwa mereka merasakan nyeri kepala yang baru atau memburuk pada masa pandemi. Di antara partisipan yang tidak terkena Covid-19, ada 43 persen yang merasa sakit kepalanya memburuk atau terasa berbeda dengan periode sakit yang lebih panjang. Sekitar 12 persen di kelompok tersebut juga melaporkan bahwa mereka baru mengalami gejala sakit kepala pada masa pandemi.

Di antara partisipan yang positif Covid-19, ada sebanyak 44 persen yang melaporkan bahwa keluhan sakit kepala mereka memburuk. Sekira 33 persen lainnya melaporkan baru mulai mengalami gejala sakit kepala pada masa pandemi.

Beberapa laporan mengungkapkan bahwa sebagian pasien Covid-19 bisa bergelut dengan sakit kepala selama berbulan-bulan sejak pertama kali terdiagnosis positif Covid-19.

Peneliti mengatakan, sakit kepala merupakan gejala neurologis yang paling umum pada Covid-19. Akan tetapi, banyak pula partisipan non-Covid-19 yang merasa sakit kepalanya menjadi lebih sering atau memburuk selama pandemi Covid-19.

Perburukan sakit kepala pada partisipan non-Covid-19 dinilai berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan stres yang terjadi. Seperti diketahui, pandemi merupakan masa yang menantang bagi banyak orang. Selain itu, jaga jarak sosial juga dapat memunculkan perasaan terisolasi dan kesepian yang kemudian meningkatkan stres dan kecemasan.

"Situasi ini bisa menjadi penuh tekanan, kewalahan, dan memunculkan emosi kuat pada orang dewasa dan anak-anak," ungkap Center for Disease Control and Prevention (CDC), seperti dilansir Forbes, Selasa (9/3).

Selain Covid-19 dan kesehatan mental, peningkatan keluhan sakit kepala pada masa pandemi Covid-19 juga dinilai berkaitan dengan ketegangan mata. Alasannya, banyak orang yang kini bekerja dan melakukan berbagai aktivitas secara daring melalui gawai, baik itu ponsel pintar maupun komputer atau laptop.

Hal ini membuat orang-orang semakin lama menghabiskan waktu menatap layar. Paparan cahaya biru dari perangkat elektronik bisa mengganggu pola tidur, menyebabkan pandangan mata menjadi buram sementara, dan membuat mata terasa kering atau gatal.

Dokter spesalis mata menyebut, paparan sinar biru berlebihan ini sebagai computer vision syndrome atau sindrom penglihatan komputer. Insomnia dan ketegangan mata yang muncul akibat dipicu kondisi ini juga dapat menyebabkan terjadinya sakit kepala atau perburukan sakit kepala.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola gejala sakit kepala kronis. Salah satunya adalah memperbaiki pola tidur dan pola makan serta menjaga kadar gula darah tetap sehat. Cara ini turut membantu menghindari munculnya sakit kepala akibat kelelahan atau lapar.

Selain itu, biasakan untuk mengambil jeda istirahat dari komputer secara rutin agar mata tidak cepat lelah. Penggunaan kacamata yang dapat menghalau paparan cahaya biru juga dinilai dapat membantu.

Beragam faktor pemicu stres mungkin tak bisa benar-benar dihindari pada masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, dibutuhkan juga strategi pengelolaan stres dan kecemasan yang baik agar kondisi tersebut tidak sampai memicu sakit kepala.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar