Yamaha

Ini Sejarah Soto Sadang Kuliner Khas Purwakarta

  Senin, 05 April 2021   Dede Nurhasanudin
Pemilik Rumah Makan Soto Sadang Lama, Wawan Ernawan. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

PURWAKARTA KOTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Soto merupakan makanan khas Indonesia yang memiliki citarasa berbeda di setiap daerah. Di Kabupaten Purwakarta juga ada Soto Sadang Lama yang tak kalah nikmatnya. Bagi warga sini pasti tidak asing lagi dengan kuliner yang satu ini.

Namun, mungkin belum banyak yang mengetahui awal mula Soto Sadang Lama hadir ramaikan pasar kuliner di Kabupaten Purwakarta.

Pemilik Rumah Makan Soto Sadang Lama, Wawan Ernawan menceritakan awal mula Soto Sadang Lama dirintis oleh ibundanya bernama Siti Fatimah yang akrab disapa Ambu, berlokasi di Jalan Raya Sadang (sekarang di bawah jembatan layang Sadang) sekitar 1974.

Awal merintis hanya mendirikan warung biasa berukuran kecil berdinding anyaman bambu (bilik) dan papan.

Berjalan waktu penjualan soto meningkat seiring dikenal masyarakat luas, kemudian mendirikan bangunan secara permanen sekaligus memberikan nama makanan ini Soto Sadang Lama.

"Penamaan sendiri diambil dari nama kampung berada di wilayah sini yaitu Sadang, jadilah namanya Soto Sadang. Soto Sadang sendiri mulai dikenal masyarakat sekitar 1977," kata dia, Senin (5/4/2021).

Ia mengatakan, setelah memiliki nama dan dikenal masyarakat penjualan meningkat dari tahun ke tahun, karena waktu itu belum banyak yang berjualan.

Namun, setelah ada pembangunan jembatan layang penjualan menurun karena lokasinya tidak lagi seperti dulu berada di pinggir jalan, melainkan di bawah jembatan layang Sadang.

"Pelanggan tetap ada karena sudah dikenal oleh masyarakat walaupun lokasinya jadi terpojokan, namun ada penurunan penjualan. Puncak kejayaan Soto Sadang Lama ini terjadi pada era 80an hingga 90an," kata Wawan.

Ia mengaku merupakan generasi penerus kedua setelah ibunda meninggal sekitar 1995.

Meski meneruskan, namun ia mengaku tetap mempertahankan citarasa khas, warisan dari ibunda yang membedakan dari soto-soto tempat lain yaitu memakai bahan-bahan rempah.

Rasa khas itu pula Soto Sadang Lama tetap bertahan hingga saat ini yang memiliki lima varian soto, soto ayam, soto kaki sapi, soto babat, soto campur dan soto daging.

"Alhamdulillah sekarang kami masih bertahan dan sudah ada di Gofood serta pelanggan tetap selalu ada datang. Kami juga sempat buka di Tol Cipularang KM 72 tetapi berhenti dahulu karena pandemi," kata Wawan yang merupakan anak ke 12 dari 14 bersaudara ini.

Selain itu, Wawan menyebut banyak pengusaha atau anggota dewan di Jakarta yang mengajak untuk bekerjasama dengan membuat cabang-cabang Soto Sadang Lama ini.

Namun, ia mengaku masih enggan melakukan kerjasama karena masih ingin berjuang bersama keluarga.

Ia lebih memilih berencana membuat bumbu kemasan agar siapapun dan di manapun orang bisa membuatnya dengan rasa yang memang khas Soto Sadang Lama.

"Saya masih belum berani melakukan kerjasama seperti membuka franchise karena rasa kan harus sama. Di Jakarta ada yang sudah membuat konsep gerobak untuk dagang, tapi saya tidak mau," ujar Wawan pria berusia 58 tahun itu.

Masa pandemi yang telah berlangsung sejak 2020, kata Wawan, sangat memukul telak usahanya ini. 

Baginya, kondisi ini merupakan pukulan kedua setelah era pembuatan jembatan layang Sadang yang membuat penghasilan usaha sotonya menurun.

"Pandemi Covid-19 di 2020 sangat membuat kami terpuruk. Tapi, kami mencoba bertahan hingga sekarang karena mengingat perjuangan orangtua yang begitu kuat merintis usaha ini," kata dia.

Kedai Soto Sadang Lama beroperasi mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB. 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar