Yamaha

3 Wisata Situs Bebatuan Purwakarta, Ada Peninggalan Sangkuriang

  Jumat, 30 April 2021   Dede Nurhasanudin
Tebing Boyer yang dulunya digunakan tempat penggilingan atau penghancur batu andesit, diperuntukan pembangunan Waduk Jatiluhur pada 1957. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

SUKATANI, AYOPURWAKARTA.COM -- Purwakarta punya banyak sekali potensi wisata alam. Salah satunya situs bebatuan alam.

Wisata alam tentunya bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi karena dinilai lebih aman dari penyebaran Covid-19. Namun, wisatawan tetap tidak boleh mengendorkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Berikut Ayopurwakarta.com rekomendasikan 3 wisata situs bebatuan alam yang ada di Purwakarta.

Tebing Boyer

Tebing Boyer yang berlokasi di Desa Tajursindang Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat penggilingan atau penghancur batu andesit yang diperuntukan pembangunan Waduk Jatiluhur pada 1957.

Di lokasinya yang berada di atas perbukitan terdapat tembok menjulang tinggi dan bebatuan menyerupai reruntuhan sisa-sisa bangunan.

Tebing Boyer menyuguhkan keindahan alam yang mampu memanjakan mata bagi siapa saja yang data ke sana. Sebab selain lokasinya berada di ketinggian, Tebing Boyer juga tak jauh dari perairan Waduk Jatiluhur, sehingga menambah keindahan alam yang asri.

img-20200710-wa0008

Tebing Boyer. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

Untuk menuju Tebing Boyer, pengunjung harus melalui perjalanan yang cukup panjang. Dari kantor Desa Tajursindang, pengunjung masih dapat melalui jalan beraspal yang berkelok- kelok dan naik turun sekitar dua kilometer.

Selanjutnya, dari pintu masuk pengunjung masih perlu menempuh jarak sekitar dua kilometer dengan melalui jalan setapak yang berliku dengan kontur jalan bebatuan dan tanah merah, serta menanjak.

Untuk menuju ke lokasi, dari pintu gerbang tersebut, hanya dapat dilalui kendaraan roda dua atau dengan berjalan kaki.

Batu Peti

Hasil penemuan batu menyerupai benteng kerajaan di lahan perhutani di Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta ini diduga memiliki nilai sejarah dan cocok dijadikan destinasi wisata.

img-20200312-0044

Batu peti. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

Seorang tokoh masyarakat setempat, Ahmad Fadil mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir ada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hingga para ahli arkeologi dan sejarah melakukan penelitian dan menguji sample batu, dan kabarnya batu tersebut berasal dari 3 peradaban kebudayaan yaitu tahun 2400 Sebelum Masehi (SM),1621 SM, dan tahun 792 M.

Menurutnya, jika lokasi batu peti telah menjadi destinasi wisata akan mampu menarik perhatian wisatawan. Apalagi ditunjang dengan pemandangan eksotis dari pegunungan dan perairan Danau Jatiluhur menambah keindahan di sekitar batu peti.

Batu Sangkuriang

Batu menyerupai kursi tersusun rapi di bibir perairan Waduk Jatiluhur, tepatnya di Kampung Ciputat, Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. Konon, batu tersebut telah ada sejak ratusan tahun silam.

img-20200310-0066

Batu Sangkuriang. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

Masyarakat setempat percaya batu tersebut masih berkaitan dengan legenda tanah Sunda, Sangkuriang. Berdasarkan cerita turun temurun, pada zaman dulu batu itu digunakan masyarakat untuk menyaksikan bulan madu Sangkuriang jika berhasil menikahi Dayang Sumbi yang akan berlayar mengarungi Sungai Citarum.

Tempat ini juga biasa menjadi tempat musyawarah atau bale sawala masyarakat.

Pernah ada peneliti dari Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung yang memperkirakan usia batu ini 5-15 juta tahun.

Terlepas dari hasil buatan manusia ataupun terbentuk secara alami, hasil penelitian itu bisa jadi modal utama untuk mengembangkan sektor pariwisata.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar