Yamaha

Tanda-tanda Ustadz Tengku Zulkarnain Sebelum Meninggal

  Selasa, 11 Mei 2021   Adi Ginanjar
Ustadz Tengku Zulkarnain

AYOPURWAKARTA.COM--Bibir Ustadz Tengku Zulkarnain membiru sebelum meninggal dunia. Ini adalah salah satu tanda-tanda Ustadz Tengku Zul meninggal dunia.

Ustadz Tengku Zulkarnain meninggal dunia positif covid-19. Tengku Zul meninggal usai 8 hari berjuang di rumah sakit.

Ada cerita soal Ashar dan Ustaz Tengku Zul selama dia hidup.

Menurut penuturan sang adik kandung, Tengku Akhiruddin, Ustadz Tengku Zul sudah sejak lama selalu merasa ganjil jika waktu Ashar dan sore tiba. Tubuhnya langsung lemas.

Kondisi itu selalu dialaminya hanya ketika bulan Ramadan.

“Tiap habis Ashar dia selalu lemas. Bahkan bibirnya sampai membiru. Itu kebiasaan dia saat puasa, saat Ashar tubuhnya pasti drop,” katanya di Apa Kabar Indonesia, dikutip Selasa (11/5/2021).

Akan tetapi, hingga kini pihak keluarga tak pernah mengetahui mengapa keanehan itu selalu muncul tiap Ashar di tubuh Ustadz Tengku Zul.

Yang pasti, kata dia, kondisi itu sudah dialami sejak masih kecil.

Antara Ashar dan Puasa, Ustadz Tengku Zul selalu lemas dan drop. Sang adik sendiri mengaku terpukul dengan kepergian sang kakak. Bagaimana tidak, kenangan manis selalu membekas dan terbayang.

Adapun, dia terakhir berkomunikasi dengan Ustaz Tengku Zul sembilan hari lalu. Ketika itu keduanya berjumpa dan mengobrol sambil bercanda.

Di kesempatan itu, Ustadz Tengku Zul juga menyempatkan memberi nasehat kepada adik yang dahulu sering diantar ke mana-mana itu.

“Dari sebelum Maghrib sudah ada perasaan. Dan pas usai salat Maghrib ada teman datang cerita kalau Ustaz Tengku meninggal. Saya sedih, namanya abang sendiri. Saya ingat waktu sekolah dia selalu antar saya. Gimana kami pernah itikaf bersama di Thailand. Itu sangat berkesan,” katanya.

Senada juga dikemukakan menantu Ustadz Tengku Zul, yakni Ustaz Solihin. Menurut dia, di kesempatan sama, pihak keluarga tahu betul bagaimana Ustadz Tengku Zul selalu lemas ketika Ashar tiba.

Namun tidak diketahui penyebabnya hingga kini. Hal itu, kata dia, diakui memang sudah berlangsung lama, ketika Ramadhan tiba.

“Kami yang tinggal bersama di sini tak mengetahui kalau dia memiliki penyakit khusus. Mungkin ada sesekali demam. Satu hal yang kami tahu, buya yang kami sayangi ini memang selalu sampaikan, dirinya akan selalu lemas dan drop sekira pukul 15.00-16.00 lebih di saat puasa. Pasti akan sangat lemas.”

Maka itu, di usianya di kepala enam seperti sekarang ini, dia juga menyampaikan kepada anak-cucu, dan menantu, kalau dia akan selalu bersyukur jika bisa beribadah puasa sampai Maghrib.

Sementara itu, di satu sisi pihak keluarga mengaku tak terkejut dengan kabar meninggalnya buya. Sebab mereka mengaku sering ditinggal-tinggal dalam melakukan perjalanan dakwahnya.

Beliau juga tak kaget ketika mendengar Ustadz Tengku Zul dinyatakan positif covid, mengingat tingginya mobilitas yang dilakukan.

“Bukan kami pasrah, tapi begitulah keluarga da’i ini. Kami sudah disiapkan untuk itu menerima segala keadaan. Dan kami sering disampaikan olehnya mengenai cita-cita beliau yang sangat kuat, yakni dia ingin sekali diwafatkan dalam safari dakwah,” katanya.

Pihak keluarga memohon doa kepada masyarakat, agar bisa menyambung cita-cita beliau.

Terlebih pihak keluarga baru saja membangun masjid dan pondok pesantren di Pekanbaru, Riau, di mana Solihin merupakan guru, dan Ustadz Tengku Zul sebagai guru besarnya.

“Baru 1 bulan masjid kami diresmikan, beliau baru 2 kali ngisi. Kami mohon doa agar kami bisa menyambung cita-cita beliau.”

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar