Yamaha

Hukum Islam tentang Nyekar Makam Saat Awal Ramadan dan Lebaran

  Kamis, 13 Mei 2021   Republika.co.id
Ziarah kubur sudah menjadi tradisi yang biasa dilakukan umat muslim sebelum Ramadan dan saat Lebaran. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

PLERED, AYOPURWAKARTA.COM — Di Purwakarta hingga Tasikmalaya, ziarah kubur sudah menjadi tradisi yang biasa dilakukan umat muslim sebelum Ramadan dan saat Lebaran. 

Warga lokal di beberapa daerah biasa menyebutnya sebagai nyekar, yakni ziarah kubur sembari membersihkan makam dan menaburkan bunga (lazimnya juga diisi dengan kegiatan mengaji). 

Meski begitu, di wilayah tertentu, seperti Tangerang hingga Jakarta, pemerintah melarang pelaksanaan tradisi ziarah kubur semacam itu. Kebijakan ini diambil sebagai upaya mitigasi penyebaran Covid-19 yang masih belum usai.

Padahal, aktivitas nyekar sudah menjadi agenda yang biasa dilakukan banyak warga Indonesia saat Lebaran. Pelarangannya tentu saja memberikan kekecewaan.

Jika dilihat dari hukum Islam, sebenarnya, bagaimana  tradisi ziarah kubur ini? Apakah wajib atau bahkan dilarang juga? Bagaimana pula pendapat ulama terkait pelarangan tradisi nyekar?

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Sholahuddin Al-Aiyub, mengatakan nyekar atau ziarah kubur adalah ajaran yang dahulu sempat dilarang oleh Rasulullah Saw.

Namun kemudian Nabi menganjurkannya karena beberapa manfaat yang terkandung dalam ziarah kubur. Rasulullah SAW bersabda:

“Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang ziarahilah kubur karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan negeri Akhirat dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor (di dalamnya).” (HR Al Hakim)

Menurut K.H. Sholahuddin Al-Aiyub, hadis tersebut sudah menjelaskan bolehnya perlaksanaan tradisi nyekar atau ziarah kubur. Tradisi ini merupakan kebiasaan yang baik karena dapat mengingatkan seseorang kepada kematian agar lebih berupaya mencari bekal amal saleh untuk akhirat.

“Apa yang dilakukan saat ziarah kubur itu? Pertama mendoakan orang yang sudah meninggal karena yang dibutuhkan bagi dia sekarang kan doa. Kedua adalah tadzkiratul maut (mengingat kematian), mengingatkan kita kalau suatu saat juga kita akan seperti itu,”ungkap K.H. Sholahuddin Al-Aiyub.

Sedangkan waktu pelaksanaannya bisa dilakukan kapan pun, meski ada beberapa waktu yang termasuk sebagai waktu utama.

Adapun terkait larangan beberapa pemerintah daerah untuk nyekar saat lebaran adalah hal yang bisa dimaklumi. Kebijakan ini disebutnya diputuskan demi melindungi keselamatan jiwa masyarakat.

“Kalau saat ini mungkin lebih banyak pada aspek Covid-19nya. Karena ziarah yang kemudian difokuskan di hari-hari tertentu ini, potensi kerumunannya tinggi. Maka dari itu kalau pemerintah dilakukan pelarangan, lebih banyak kerena mitigasi untuk protokol kesehatan,” jelasnya.

“Jadi tidak apa-apa (larangan ini). Jangankan ziarah kubur, orang salat berjamaah aja ada pembatasan kan,” tambahnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar