Yamaha

Hujan Bulan Juni, Salah Satu Puisi Legendaris Sapardi Djoko Damono

  Kamis, 03 Juni 2021   Redaksi AyoBandung.Com
Almarhum Sapardi Djoko Damono. (Republika)
JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM -- Bulan Juni baru saja melangkah. Bagi Anda yang suka puisi, bulan Juni terasa spesial karena ia menjadi diksi dari puisi yang melegenda--"Hujan Bulan Juni" milik sastrawan Profesor Sapardi Djoko Damono. 
 
Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, 20 Maret 1940. Sapardi Djoko Damono wafat dalam usia 80 tahun pada Ahad, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. Sastrawan yang juga guru besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) telah pergi selama-lamanya ke haribaan Illahi pada bulan Juli, bulan setelah Juni..
 
Almarhum Sapardi tidak hanya memiliki puisi "Hujan Bulan Juni" saja. Banyak puisi mahaguru sastrawan ini yang melegenda. Berikut lima puisi Sapardi yang abadi.
 
1. Aku Ingin
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 
-- 1989
 
2. Hujan Bulan Juni
 
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
 
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
 
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.
 
3. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
 
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.
 
-- 1978
 
4. Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
 
Nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
 
Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
 
5. Pada Suatu Hari Nanti
 
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.
 
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.
 
Kau akan tetap kusiasati,
 
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar