Peraih Medali Emas Olimpiade Beijing Itu Sepertinya Ingin Mati di Lapangan. Selamat Jalan, Markis Kido

  Rabu, 16 Juni 2021   Redaksi Ayopurwakarta
Markis Kido. (Wikimedia Commons/Pierre-Yves Beaudouin)

JAKARTA, AYOPURWAKARTA.COM — Markis Kido, legenda bulu tangkis terbaik ganda putra Indonesia itu, meninggal dunia pada Senin, 14 Juni 2021. Ia meninggal di lapangan bulutangkis di GOR Petrolin, Alam Sutera, Tangerang, akibat serangan jantung saat bermain bulutangkis dengan teman-temannya.

Menurut Candra Wijaya, legenda ganda putra lainnya yang kebetulan hadir di Gor Petrolin, Kido tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri saat baru bermain setengah gim. Saat itu sekira pukul 18.30 WIB. "Saya duduk di pinggir lapangan. Saya melihat Kido terjatuh dan saya lari menolong. Dia tidak sadarkan diri dan mengorok," ungkap Candra, yang kemudian membawa Kido ke RS Omni di Alam Sutra, Tangerang. Tetapi, nyawanya tak bisa diselamatkan lagi.

Selama ini, Kido memang setiap hari Senin rutin bermain bulutangkis dengan teman-temannya dalam sebuah tim di sana.

Ibunda Markis Kido, Zul Asteria, mengomentari kematian putera kesayangannya itu. Sang bunda mengatakan, Kido telah berikrar untuk hidup dan mati di lapangan. "Dia sepertinya memang maunya (hidup dan matinya) di lapangan kali ya. Tadi saya berdoa semoga ia masih bisa selamat," kata ibunda dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, jaringan Ayopurwakarta.com, Senin (14 Juni 2021) malam. "Saya kira tadi hanya stroke karena dia kan punya darah tinggi terus mungkin jatuh dan pembuluh darahnya pecah. Saya berdoanya begitu, tapi ternyata Mas Kido diambil," lanjutnya.

Markis Kido layak disebut legenda bulutangkis dengan segala prestasi yang ia sudah torehkan untuk Merah-Putih.

Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menyampaikan duka yang mendalam dan rasa kehilangan yang besar atas musibah ini. "Hari ini keluarga besar bulutangkis Indonesia sangat berduka dengan berpulangnya Markis Kido, pahlawan bulutangkis yang telah berkali- kali mengharumkan nama Merah-Putih di panggung bulutangkis dunia," ucap Agung Firman Sampurna, Ketua Umum PBSI.

"Meninggalnya Kido merupakan sebuah kehilangan besar bagi dunia bulutangkis Indonesia yang tengah menghadapi Olimpiade Tokyo. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan," sambung Agung.

Markis Kido layak disebut legenda bulutangkis dengan segala prestasi yang ia sudah torehkan untuk Indonesia. Oleh karenanya, PBSI berharap suri tauladan pria kelahiran 11 Agustus 1984 itu menjadi inspirasi para penerusnya.

"Dengan prestasi besar seperti Juara Dunia 2007 di Kuala Lumpur, medali emas Olimpiade 2008 Beijing, dan emas Asian Games 2010 Guangzhou bersama Hendra Setiawan, nama Kido begitu harum di pentas dunia. Kami keluarga besar bulutangkis Indonesia dan PBSI ikut berduka cita dan merasa kehilangan besar dengan berpulangnya Markis Kido," tutur Agung.

"Semoga suri teladan, semangat juang, prestasi besar, dan etos kerja yang telah ditunjukkan Markis Kido selama ini, bisa menginspirasi para pemain-pemain bulutangkis Indonesia untuk mengikuti jejak almarhum," pesannya.

Markis Kido meninggalkan seorang istri, Richasari Pawestri, dan dua orang putri.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar